LAPORAN PEMANTAPAN KEMAMPUAN PROFESIONAL


MENINGKATKAN HASIL BELAJAR DAN AKTIVITAS SISWAKELAS II SDN SENTUL I MELALUI KERJA KELOMPOK DENGAN MEDIA PUZZLE DENGAN MATERI KERJA SAMA DI LINGKUNGAN TETANGGA

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN HASIL PERBAIKAN PEMBELAJARAN IPS

Nama Mahasiswa                                : Rokhmatul Izzah

NIM                                                    : 821 362 055

Program Studi                                     : S1-PGSD

Tempat Mengajar                                : SDN Sentul 1

Jumlah Siklus Pembelajaran                : 2 (Dua) Siklus

Hari dan Tanggal Pelaksanaan            : Pra Siklus, Hari Jum’at tanggal 02 Mei 2014

Siklus 1, Hari Rabu,tanggal 07 Mei 2014

Siklus 2, Hari Rabu, tanggal 14 Mei 2014

Masalah yang Merupakan Fokus Perbaikan:

  1. Rendahnya minat siswa terhadap mata pelajaran IPS.
  2. Tidak digunakannya media pembelajaran selama proses belajar mengajar berlangsung.
  3. Hasil belajar masih rendah.

Purwodadi, 10 Juni 2014

Menyetujui,

Supervisor 1,                                                                           Mahasiswa,

 

Drs. Rustanto R, M. Si.                                                        Rokhmatul Izzah

 

NIP.19630502199001 1 001                                                  NIM. 821 362 055

 

 

 

 

LEMBAR PERNYATAAN BEBAS PLAGIAT

Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa laporan praktik Pemantapan Kemampuan Profesional (PKP) yang saya susun sebagai syarat untuk memenuhi mata kuliah PKP pada Program Studi S1 PGSD Universitas Terbuka (UT) seluruhnya merupakan hasil karya saya sendiri.

Adapun bagian-bagian tertentu dalam penulisan laporan PKP yang saya kutip dari hasil karya orang lain telah dituliskan dalam sumbernya secara jelas sesuai dengan norma, kaidah, dan etika penulisan karya ilmiah.

Apabila di kemudian hari ditemukan seluruh atau sebagian laporan PKP ini bukan hasil karya saya sendiri atau adanya plagiasi dalam bagian-bagian tertentu, saya bersedia menerima sanksi, termasuk pencabutan gelar akademik yang saya sandang sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku.

Purwodadi, 10 Juni 2014

Yang membuat pernyataan,

materai 6.000

Rokhmatul Izzah

 

NIM 821 362 055

 

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rachmat, taufik dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan laporan praktik Pemantapan Kemampuan Profesional (PKP), sebagai salah satu syarat akademik dalam menyelesaikan perkuliahan pada program S1, universitas Terbuka.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa penyusunan karya tulis ini dapat terselesaikan berkat bantuan dan berbagai pihak baik secara langsung maupun tidak langsung. Untuk itu patutlah kiranya penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :

  1. Drs. Rustanto R, M. Si. selaku sebagai supervisor 1 juga dosen pembimbing Universitas Terbuka.
  1. Pudji Arini, M. MPd, selaku Kepala Sekolah SDN Sentul I yang telah memberikan izin melaksanakan PKP serta sebagai penguji I.
  2. Mudji Rahaju. S. Pd. Selaku Wali kelas II juga sebagai supervisor 2 dan penguji 2 dari SDN Sentul I.
  3. Pengurus Pokjar Purwodadi yang membantu pelaksanaan praktek Pemantapan Kemampuan Profesional.

Semoga semua kebaikan yang telah diberikan kepada penulis mendapatkan balasan yang selayaknya dari Tuhan Yang Maha Esa. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa penyusunan karya tulis ini masih terdapat kekurangan-kekurangan sehingga sudilah kiranya apabila ada yang memberikan saran dan kritik demi kesempurnaan penulisan mendatang.

Akhirnya penulis berharap semoga apa yang disajikan dalam karya tulis ini memberikan manfaat kepada berbagai pihak pada umumnya dan penulis khususnya.

Purwosari, 10 Juni 2014

Penulis

DAFTAR ISI

Halaman Judul…………………………………………………………………………………………. i

Lembar Pengesahan………………………………………………………………………………….. ii

Lembar Pernyataan Bebas Plagiat………………………………………………………………. iii

Kata Pengantar………………………………………………………………………………………… iv

Daftar Isi ……………………………………………………………………………………………….. v

Daftar Tabel……………………………………………………………………………………………. vii

Daftar Gambar………………………………………………………………………………………… vii

Daftar Lampiran………………………………………………………………………………………. ix

Abstrak………………………………………………………………………………………………….. x

BAB I PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah ……………………………………………………………. 1
  2. Perumusan Masalah ………………………………………………………………….. 4
  3. Tujuan Penelitian ……………………………………………………………………… 4
  4. Manfaat Penelitian ……………………………………………………………………. 5

BAB  II  KAJIAN PUSTAKA

  1. Pengertian Hasil Belajar………………………………………………………………
  2. Pengertian Aktivitas Siswa………………………………………………………….
  3. Metode Kerja Kelompok
    1. Pengertian Metode Kerja Kelompok………………………………………..
    2. Kelebihan dan Kekurangang Meode Kerja Kelompok………………..
    3. Langkah-langkah Metode Kerja Kelompok……………………………….
  4. Media Puzzle
    1. Pengertian Media Puzzle…………………………………………………………
    2. Kelebihan dan Kekurangan Media Puzzle…………………………………
  5. Pembelajaran IPS di SD
    1. Pengertian IPS………………………………………………………………………
    2. Tujuan Pendidikan IPS…………………………………………………………..
    3. Materi Pembelajaran IPS…………………………………………………………
  6. Penelitian Tindakan Kelas
    1. Pengertian PTK……………………………………………………………………..
    2. Karakteristik PTK………………………………………………………………….

BAB  III  METODE PENELITIAN

  1. Lokasi, Tempat dan Waktu penelitian, Pihak yang Membantu…………
  2. Desain Prosedur Perbaikan Pembelajaran ……………………………………..
  3. Teknik Analisis Data ………………………………………………………………….

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

  1. Deskripsi Hasil Penelitian dan Perbaikan Pembelajaran……………………..
  2. Pembahasan Hasil Penelitian Perbaikan Pembelajaran……………………….

BAB V SIMPULAN DAN SARAN TINDAK LANJUT

  1. Simpulan……………………………………………………………………………………..
  2. Saran Tindak Lanjut……………………………………………………………………..

DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………………………………

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1    Uraian Jadwal Pelaksanaan Penelitian…………………………………………..

Tabel 3.2    Format Kriteria Penilaian aktivitas siswa……………………………………….

Tabel 4.1    Lembar Pengamatan Pra Silus………………………………………………………

Tabel 4.2     Hasil observasi evaluasi pembelajaran siswa Mata pelajaran IPS Pra Siklus

Tabel 4.3   Lembar Pengamatan Terhadap Kinerja Guru Siklus I……………………..

Tabel 4.4   Hasil observasi keaktifan pembelajaran siswa Mata pelajaran

IPS Siklus I……………………………………………………………………………….

Tabel 4.5   Hasil observasi evaluasi pembelajaran siswa Mata pelajaran IPS

Siklus I……………………………………………………………………………………..

Tabel 4.6   Lembar Pengamatan Terhadap Kinerja Guru Siklus II…………………….

Tabel 4.7   Hasil observasi aktivitas belajar siswa dalam kerja kelompok Mata pelajaran IPS Siklus II

Tabel 4.8   Hasil observasi aktivitas belajar siswa dalam kerja kelompok Mata pelajaran IPS Siklus II

Tabel 4.9   Hasil observasi evaluasi pembelajaran siswa Mata pelajaran

IPS Siklus II……………………………………………………………………………..

Tabel 4.10     Hasil Evaluasi siswa pra siklus, siklus I dan Siklus II Mata pelajaran

IPS kelas II……………………………………………………………………………….

DAFTAR GAMBAR

Gambar 4.1   Guru melakukan pembelajaran dengan menggunakan metode ceramah

Gambar 4.2     Jumlah Siswa yang mencapai KKM Mata Pelajaran IPS

Pra Siklus……………………………………………………………………………..

Gambar 4.3     Grafik Kriteria Ketuntasan Minimal siswa Mata Pelajaran IPS

Pra Siklus……………………………………………………………………………..

Gambar 4.4     Guru melakukan pembelajaran dengan menggunakan metode slide show power point

Gambar 4.5     Jumlah Siswa yang mencapai KKM Mata Pelajaran IPS

Siklus I…………………………………………………………………………………

Gambar 4.6     Grafik Kriteria Ketuntasan Minimal siswa Mata Pelajaran IPS

Siklus I…………………………………………………………………………………

Gambar 4.7     Siswa melakukan contoh bentuk kerja sama………………………………

Gambar 4.8     Siswa menyimpulkan pengertian kerja sama………………………………

Gambar 4.9     Siswa melakukan kerja kelompok dengan menyatukan puzzle……..

Gambar 4.10   Jumlah Siswa yang mencapai KKM Mata Pelajaran IPS

Siklus II………………………………………………………………………………..

Gambar 4.11   Grafik Kriteria Ketuntasan Minimal siswa Mata Pelajaran IPS

Siklus II………………………………………………………………………………..

Gambar 4.12   Diagram peningkatan perbaikan pembelajaran…………………………..

Gambar 4.13 Grafik peningkatan Perbaikan pembelajaran……………………………….

Gambar 4. 14 Diagram batang peningkatan keaktifan siswa……………………………..

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1      Kesediaan Sebagai Supervisor 2 Dalam Penyelenggaraan PKP

Lampiran 2      Surat Pernyataan Kesediaan Sebagai Supervisor 2

Lampiran 3                  Perencanaan PTK (Identifikasi masalah, analisis masalah, alternatif pemecahan masalah, rumusan masalah)

Lampiran 4     Berkas RPP Pra Siklus, RPP Perbaikan Siklus I, RPP

Perbaikan Siklus II

Lampiran 5      Lembar Observasi/ Pengamatan Kinerja Guru

Lampiran 6      Jurnal Pembimbingan dengan Supervisor 2

Lampiran 7      Hasil Pekerjaan Siswa yang Terbaik dan Terburuk Per siklus

Lampiran 8      Foto-foto hasil Kegiatan Pemantapan Kemampuan Profesional (PKP)

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan salah satu dari mata pelajaran yang diajarkan di Sekolah Dasar. Menurut Depdikbud (Ummah : 2011), IPS yang diajarkan di tingkat pendidikan dasar mencakup bahan kajian lingkungan sosial, ilmu bumi, ekonomi, dan pemerintahan, serta bahan kajian sejarah. Sedangkan untuk jenjang pendidikan menengah didasarkan pada bahan kajian pokok Geografi, Ekonomi, Sosiologi, Antropologi, Tata Negara, dan Sejarah. Menurut Kosasih (Wahzunita : 2011) Ilmu pengetahuan sosial juga membahas hubungan antara manusia dengan lingkungannya. Lingkungan masyarakat dimana anak didik tumbuh dan berkembang sebagai bagian dari masyarakat, dihadapkan pada berbagai permasalahan yang ada dan terjadi di lingkungan sekitarnya. Pendidikan IPS berusaha membantu peserta didik dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi sehingga akan menjadikannya semakin mengerti dan memahami lingkungan sosial masyarakatnya.

Agar peserta didik peka dan tanggap terhadap berbagai masalah sosial, diperlukan pembiasaan dan kebermaknaan pembelajaran IPS di SD. Namun pada kenyataannya, mata pelajaran IPS di anggap sepele oleh sebagian peserta didik, karena di anggap mata pelajaran hafalan dan cukup mudah, sehingga banyak peserta didik berbicara dan bercanda dengan teman sebangkunya atau tidur di kelas pada saat proses belajar mengajar.

Pembelajaran di SDN Sentul 1 khususnya kelas II mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) tentang kerja sama di lingkungan tetangga, masih banyak siswa yang berbicara dan bercanda dengan teman sebangkunya. Sehingga hasil evaluasi banyak yang tidak mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) sebesar 70 atau sangat rendah.

Berdasarkan hasil evaluasi pada Pra Siklus mata pelajaran IPS tentang materi “Kerjasama di Lingkungan Tetangga”. Dari 41 orang siswa, hanya ada 11 orang siswa (26,8%) yang memenuhi KKM, 25 orang siswa (60,9%) tidak memenuhi KKM, 4 orang siswa (9,8%) tidak masuk sekolah dan 2 siswa (2,5%) masuk dalam kategori difabel atau berkebutuhan khusus. Pelaksanaan pembelajaran yang penulis lakukan inipun dapat dikatakan belum berhasil.

  1. Identifikasi Masalah

Berdasarkan hal tersebut, penulis meminta bantuan wali kelas selaku sebagai supervisor 2 untuk mengidentifikasi kekurangan dari pembelajaran yang dilaksanakan. Dan dari hasil observasi dan diskusi dengan supervisor 2 diperoleh beberapa masalah yang muncul selama pelaksanaan berlangsung yang perlu di identifikasi. Adapun permasalahan tersebut, yaitu:

  1. Penggunaan metode mengajar yang kurang bervariasi.
  2. Tidak ada media yang menarik perhatian siswa.
  3. Volume suara guru yang kurang keras.
  4. Perolehan hasil evaluasi rendah.
  5. Siswa tidak mampu menjelaskan pengertian kerja sama.
  6. Siswa di kelas terlihat pasif.
  1. Analisis Masalah

Dari identifikasi masalah pada pembelajaran IPS tentang kerjasama di lingkungan tetangga, penulis menganalisa serta merumuskan masalah yang terjadi. Adapun analisa masalah yang ditemukan dalam pembelajaran IPS adalah:

  1. Dalam mengajar guru terlalu banyak menggunakan metode ceramah.
  2. Guru tidak menggunakan media untuk menarik perhatian siswa.
  3. Guru tidak melibatkan siswa secara aktif.
  4. Guru tidak memberikan contoh nyata di kehidupan sehari-hari.
  5. Guru tidak memberikan kesimpulan di akhir pembelajaran.
  1. Alternatif dan Prioritas Pemecahan Masalah

Berdasarkan analisa yang telah di buat, di perlukan suatu metode atau pengajaran yang inovatif dan kreatif untuk menarik perhatian siswa. Menurut Hildebrand (Syukron : 2011) bahwa proses belajar mengajar anak lebih ditekankan pada “berbuat” daripada mendengarkan ceramah, maka dengan pemberian bahan-bahan dan aktivitas sedemikian rupa sehingga anak belajar menurut pengalamannya sendiri dan membuat kesimpulan dengan pikirannya sendiri. Sedangkan menurut Rusman (Islamiyah : 2013) pembelajaran akan lebih bermakna jika siswa diberi kesempatan untuk berpartisipasi dalam berbagai aktivitas kegiatan pembelajaran, sehingga siswa mampu mengaktualisasikan kemampuannya di dalam dan di luar kelas. Salah satu bentuk pembelajaran yang mampu meningkatkan hasil belajar dan aktivitas siswa adalah dengan mengkombinasikan metode kerja kelompok dengan menggunakan media puzzle. Dengan menggunakan metode kerja kelompok, siswa diajak secara langsung mempraktekkan salah satu bentuk kerjasama, sehingga kebermaknaan pembelajaranpun akan ada pada diri siswa dan membuat siswa dapat melatih diri baik itu dalam hal bersosialisasi maupun berkomunikasi dengan siswa lainnya. Hal ini sesuai dengan pendapat yang di kemukakan oleh Modjiono (Krisiyanto : 2011), bahwa Penerapan kerja kelompok bertujuan : a) memupuk kemauan dan kemampuan kerja sama diantara peserta didik, b) meningkatkan keterlibatan sosio-emosional dan intelektual para peserta didik dalam proses belajar mengajar yang disediakannya dan c) meningkatkan perhatian terhadap proses dan hasil dari proses belajar mengajar secara seimbang. Selain itu, dengan dikombinasikan menggunakan media puzzle, siswa diajak untuk memecahkan masalah bersama-sama, sehingga mendorong siswa untuk mampu berfikir kritis dan pantang menyerah untuk mencari jawaban atas masalah-masalah yang terjadi. Seperti yang di kemukakan oleh Al-Azizy (Niko : 2013) menjelaskan bahwa salah satu permainan edukatif untuk anak-anak adalah puzzle. Dengan penerapan metode kerja kelompok dengan menggunakan media puzzle, penulis mengharapkan siswa mampu mengamplikasikan kerja sama dalam kehidupan sehari-hari untuk memecahkan masalah bersama-sama, sehingga peserta didik dapat berfikir kritis dan pantang menyerah.

Berdasarkan permasalahan di atas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Meningkatkan Hasil Belajar dan Aktivitas Siswa SDN Sentul I melalui Kerja Kelompok dengan Menggunakan Media Puzzle dengan Materi Kerjasama dilingkungan Tetangga”.

  1. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang diatas, dirumuskan rumusan masalah sebagai berikut:

  1. Apakah penerapan metode kelompok dengan menggunakan media puzzle dapat meningkatkan hasil belajar siswa?
  2. Bagaimanakah langkah-langkah penerapan metode kerja kelompok dengan menggunakan media puzzle dapat meningkaykan aktivitas belajar siswa?
  1. Tujuan

Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan penelitian perbaikan pembelajaran ini yaitu:

  1. Memenuhi tugas mata kuliah Pemantapan Kemampuan Profesional (PDGK).
  2. Meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS.
  3. Meningkatkan aktivitas siswa dalam kerja kelompok.
  4. Siswa memiliki pengalaman langsung tentang kerja sama di lingkungan sekolah.
  5. Melatih siswa untuk berkomunikasi dan bersosialisasi dalam kerja kelompok.
  6. Secara khusus penelitian ini adalah membantu guru dalam mengatasi kesulitan siswa dengan mempraktekkan strategi dan alternatif pembelajaran IPS melalui metode kerja kelompok dengan menggunakan media puzzle.
  1. Manfaat

Hasil penelitian ini berguna bagi pihak-pihak sebagai berikut:

  1. Bagi Siswa
    1. Dapat meningkatkan kemampuan berkomunikasi dengan bekerja sama.
    2. Dapat meningkatkan hasil belajar atau prestasi siswa.
    3. Siswa lebih senang belajar karena di selingi bermain menyatukan puzzle
  2. Bagi Guru
  3. Untuk memperbaiki pembelajaran yang dikelolahnya.
  4. Guru dapat berkembang secara professional.
  5. Guru lebih percaya diri, karena mampu melakukan analisis kinerjanya sendiri.
  6. Guru mendapat kesempatan mengembangkan pengetahuan dan ketrampilan sendiri.
  7. Bagi Sekolah
    1. Meningkatkan kualitas pendidik untuk para siswa.
    2. Sekolah dapat berkembang pesat.
    3. Sebagai bahan masukan tentang upaya perbaikan dan peningkatan pembelajaran IPS.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

  1. Pengertian Hasil Belajar

Di kutip dari Badan (2014), pengertian hasil belajar menurut para ahli sebagai berikut:

  1. Menurut Sudjana (2009 : 3) mendefinisikan hasil belajar siswa pada hakikatnya adalah perubahan tingkah laku sebagai hasil belajar dalam pengertian yang lebih luas mencakup bidang kognitif, afektif dan psikomotorik
  2. Menurut Winataputra (2007 : 1.10), mengemukakan hasil belajar merupakan bukti keberhasilan yang telah dicapai siswa dimana setiap kegiatan belajar dapat menimbulkan suatu perubahan yang khas. Dalam hai ini, belajar meliputi keterampilan proses, keaktifan, motivasi juga prestasi belajar. Prestasi adalah kemampuan seseorang dalam menyelesaikan suatu kegiatan.
  3. Menurut Dimyati dan Mudjiono (2006 : 3-4) hasil belajar merupakan hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan tindak mengajar diakhiri dengan proses evaluasi hasil belajar. Dari sisi siswa, hasil belajar merupakan berakhirnya pengajaran dari puncak proses belajar.
  4. Forijad (1989) mendefinisikan bahwa hasil belajar adalah suatu proses mental yang mengarah pada penguasaan pengetahuan, ketrampilan, dan sikap dengan ketrampilan proses dan dilaksanakan agar menimbulkan tingkah laku progresif dan adaptif.
  5. Menurut Tirtonegoro (2001 : 43) Penilaian hasil usaha kegiatan belajar yang dinyatakan dalam bentuk symbol, angka, huruf maupun kalimat yang dapat mencerminkan hasil yang sudah dicapai oleh setiap siswa dalam periode tertentu.
  6. Menurut Darmansyah (2006 : 13), hasil belajar adalah hasil penilaian terhadap kemampuan siswa yang ditentukan dlam bentuk angka adalah hasil penilaian terhadap kemampuan siswa setelah menjalani proses pembelajaran.
  7. Menurut Cece Rahmat dalam Abidin (2004 : 1) Mengatakan bahwa hasil belajar adalah penggunaan angka pada hasil tes atau prosedur penilaian sesuai dengan aturan tertentu atau dengan kata lain untuk mengetahui daya serap siswa setelah menguasai materi pelajaran yang telah di berikan.
  8. Menurut Djamarah (1996 : 23) mengenai hasil belajar adalah hasil yang diperoleh berupa kesan-kesan yang mengakibatkan perubahan dalam diri individu sebagai hasil dari aktivitas dalam belajar

Jadi, dari beberapa pendapat para ahli, dapat di ambil definisi tentang hasil belajar adalah hasil penilaian kemampuan siswa yang berupa angka untuk mengetahui daya serap siswa tentang penguasaan materi yang telah di berikan. Dalam penelitian ini, siswa di katakan mencapai hasil belajar jika telah mencapai KKM yang telah di tentukan, yaitu sebesar 70.

  1. Pengertian Aktivitas Siswa

Menurut Rosalia (Damanik : 2013) mengemukakan bahwa  siswa dikatakan memiliki keaktifan apabila ditemukan ciri-ciri perilaku seperti : sering bertanya kepada guru atau siswa lain, mau mengerjakan tugas yang diberikan guru, mampu menjawab pertanyaan, senang diberi tugas belajar, dan lain sebagainya. Sedangkan menurut Islamiyah (2013), Pengertian aktivitas menurut para ahli sebagai berikut:

  1. Menurut Anton M. Mulyono, aktivitas artinya “kegiatan atau keaktifan”. Jadi segala sesuatu yang dilakukan atau kegiatan-kegiatan yang terjadi baik fisik maupun non-fisik, merupakan suatu aktifitas.
  2. Menurut J.S. Poewadarminto aktifitas adalah kegiatan atau kesibukan.
  3. Menurut Sriyono, aktivitas adalah segala kegiatan yang dilaksanakan baik secara jasmani atau rohani.

Berdasarkan pendapat-pendapat di atas dapat di simpulkan bahwa aktivitas siswa adalah segala bentuk kegiatan atau kesibukan yang di lakukan oleh siswa pada saat proses belajar mengajar, baik itu berupa bertanya kepada guru, menjawab pertanyaan, atau siswa mengerjakan tugas dari guru itu sendiri.

  1. Metode Kerja Kelompok
  2. Pengertian Metode Kerja Kelompok

 

Metode (method), secara harfiah berarti cara. Selain itu metode atau metodik berasal dari bahasa Greeka, metha, (melalui atau melewati), dan hodos (jalan atau cara), jadi metode bisa berarti jalan atau cara yang harus di lalui untuk mencapai tujuan tertentu (Rina : 2013). Sedangkan menurut Rothwell & Kazanas (Kurniawan : 2013) mengemukakan bahwa metode adalah cara, pendekatan, atau proses untuk menyampaikan informasi.

Sardjiyo, dkk dalam buku pendidikan IPS di SD (2009 : 6.9) mengemukan kerja kelompok dapat diartikan sebagai suatu kegiatan belajar-mengajar yang membagi siswa dalam satu kelas menjadi beberapa kelompok untuk mencapai tujuan tertentu. Sedangkan menurut (Asrofudin : 2010) Istilah kerja kelompok mengandung arti bahwa siswa-siswa dalam suatu kelas dibagi dalam beberapa kelompok, baik kelompok yang kecil maupun kelompok yang besar.

Sedangkan menurut Krisiyanto (2011) mengemukakan pengertian kerja kelompok menurut para ahli, sebagai berikut:

  1. Modjiono (1992 : 61) mengemukakan metode kerja kelompok dapat diartikan sebagai format belajar-mengajar yang menitik beratkan kepada interaksi anggota yang satu dengan anggota yang lain dalam suatu kelompok guna menyelesaikan tugas-tugas belajar secara bersama-sama.
  2. Cilstrap (dalam Roestiyah N.K (1998 : 15) menyatakan bahwa kerja kelompok merupakan suatu kegiatan kelompok siswa yang biasanya berjumlah kecil untuk mengerjakan atau menyelesaikan suatu tugas.

Berdasarkan pendapat-pendapat di atas, dapat di tarik kesimpulan bahwa pengertian metode kerja kelompok adalah suatu cara atau jalan yang harus di lalui dengan saling berinteraksi satu dengan anggota yang lain dalam bentuk kelompok untuk menyelesaikan suatu tugas secara bersama-sama.

  1. Kelebihan dan Kekurangan Menggunakan Metode Kerja Kelompok

Dikutip dalam buku pendidikan IPS di SD yang ditulis oleh Sardjiyo,dkk (2009 : 6.10) kelebihan dan kekurangan metode kerja kelompok. Kelebihannya, yaitu:

  1. Dapat memupuk rasa kerja sama.
  2. Tugas yang luas dapat diselesaikan dengan cepat.
  3. Timbul persaingan yang sehat

Sedangkan kekurangan metode kerja kelompok adalah sebagai berikut:

  1. Adanya sifat-sifat seseorang yang ingin menonjol atau sebaliknya yang lemah merasa rendah diri dan selalu tergantung pada orang lain.
  2. Orang yang kurang cakap akan menghambat kelancaran tugas atau didominasi oleh seseorang.

Selanjutnya menurut Roestiyah (Krisiyanto : 2011) menyebutkan berapa kelebihan dan kelemahan metode kerja kelompok. Kelebihannya yaitu :

  1. Dapat memberikan kesempatan para siswa untuk menggunakan keterampilan bertanya dan membahas suatu masalah.
  2. Dapat memberikan kesempatan kepada para siswa untuk lebih intensif mengadakan penyelidikan mengenai suatu kasus atau masalah.
  3. Dapat mengembangkan bakat kepemimpinan dan mengajarkan keterampailan berdiskusi.
  4. Dapat memungkinkan guru untuk lebih memperhatikan siswa sebagai individu serta kebutuhannya belajar.
  5. Para siswa lebih aktif bergabung dalam pelajaran mereka, dan mereka lebih aktif berpartisipasi dalam diskusi.
  6. Dapat memberi kesempatan kepada siswa untuk megembangkan rasa menghargai dan menghormati pribadi temannya, menghargai pendapat orang lain, hal mana mereka telah saling membantu kelompok dalam usahanya mencapai tujuan bersama.

 

Sedangkan kekurangan dari menggunakan metode kerja kelompok, yaitu:

  1. Kerja kelompok sering-sering hanya melibatkan kepada siswa yang mampu sebab mereka cakap memimpin dan mengarahkan mereka yang kurang.
  2. Strategi ini kadang-kadang menuntut pengaturan tempat duduk yang berbeda-beda dan gaya mengajar yang berbeda-beda pula
  3. Keberhasilan strategi kerja kelompok ini tergantung kepada kemampuan siswa memimpin kelompok atau untuk bekerja sendiri.

Berdasarkan pendapat-pendapat di atas, dapat diketahui bahwa kelebihan dari metode kerja kelompok dalam pembelajaran adalah adanya interaksi antar individu sehingga dapat menyamaratakan perbedaan kemampuan belajar siswa. Siswa yang kurang pandai, dapat bertanya dengan siswa yang pandai dalam satu kelompok. Sehingga yang belum mengerti dapat diajari oleh teman sekelompoknya. Sedangkan kekurangan yang terjadi dalam metode kerja kelompok ini adalah apabila ada individu yang terlalu pasif dalam kelompok atau merasa rendah diri mengakibatkan individu tersebut menggantungkan tugasnya pada individu lain, sehingga dapat menghambat kelancaran tugas dalam kelompok.

  1. Langkah-Langkah Metode Kerja Kelompok

Menurut Sukmawati (2013) mengemukakan dalam pelaksanaan kerja kelompok dapat ditempuh langkah-langkah sebagai berikut:

  1. Membentuk Kelompok

Pendidik membentuk kelompok-kelompok belajar yang terdiri dari beberapa jumlah anggota kelompok disesuaikan dengan kebutuhan dan tujuan.

Menurut Sudjana (Krisiyanto : 2011) mengemukakan bahwa kelompok dibuat berdasarkan a) perbedaan individual dalam kemampuan belajar, b) perbedaan minat belajar, c) pengelompokkan berdasarkan jenis pekerjaan yang akan kita berikan, d) pengelompokkan atas dasar wilayah tempat tinggal siswa, e) pengelompokkan secara random atau dilotre, f) pengelompokkan atas dasar jenis kelamin

  1. Pemberian tugas-tugas pada kelompok

Pendidik memberikan tugas-tugas kepada peserta didik menurut kelompoknya masing-masing. Pada kesempatan ini pendidik memberikan petunjuk-petunjuk mengenai pelaksanaan tugas dan berbagai aspek kegiatan yang mungkin dilakukan oleh setiap kelompok dalam rangka mewujudkan  hasil kerja kelompok sebagai suatu kesatuan.

  1. Setiap kelompok mengerjakan tugas masing-masing

Peserta didik-peserta didik bekerja sama secara gotong royong menyelesaikan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya dalam rangka mewujudkan hasil kerja kelompoknya masing-masing. Pendidik mengawasi, mengarahkan atau mungkin juga menjawab beberapa pertanyaan dalam rangka menjamin ketertiban dan kelancaran kerja kelompok.

  1. Penilaian

Pendidik atau pendidik bersamaan peserta didik  dilakukan penilaian, bukan saja terhadap hasil kerja yang dicapai kelompok, melainkan juga terhadap cara bekerja sama dan aspek-aspek lain sesuai dengan tujuannya dan meliputi penilaian secara individual, kelompok, maupun kelas sebagai suatu kesatuan.

Jadi dalam pelaksanaan kerja kelompok langkah pertama yang harus dilakukan adalah pembentukan kelompok. Kedua, pemberian tugas. Ketiga, mengerjakan tugas masing-masing, dan terakhir adalah penilaian.

  1. Media Puzzle
  2. Pengertian Media Puzzle

Media pembelajaran secara umum adalah alat bantu proses belajar mengajar (Haryanto : 2012). Sedangkan menurut Schramm (Fitriani : 2013) mengemukakan bahwa media pembelajaran adalah teknologi pembawa pesan (informasi) yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran. Jadi, Media Pembelajaran adalah suatu alat atau teknologi yang digunakan untuk membantu proses belajar mengajar.

Menurut Patmonodewo (Fathul : 2011) mengemukakan kata puzzle berasal dari bahasa inggris yang berarti teka-teki atau bongkar pasang, media puzzle merupakan media sederhana yang dimainkan dengan bongkar pasang. Sedangkan menurut Spodek (Fathul:2011) mendefinisikan media puzzle sebagai salah satu media bermain yang dapat dimainkan di atas nampan atau bingkai (tempat memainkan potongan-potongan puzzle) yang diletakkan di atas meja.

Jadi dari beberapa pendapat yang telah di kemukakan, dapat di simpulkan bahwa Media puzzle adalah suatu alat yang di gunakan untuk membantu proses pembelajaran yang berupa potongan-potongan gambar atau teka-teki yang di mainkan di atas nampan atau bingkai untuk memasang potongan-potongan gambar menjadi satu.

  1. Kelebihan dan Kekurangan Menggunakan Media Puzzle

Dalam melakukan pembelajaran IPS dengan menggunakan media puzzle terdapat kelebihan dan kekurangan (Syuja : 2013), yaitu:

  1. Kelebihan dari media Puzzle :
  • Melatih psikomotorik.
  • Melatih daya ingat siswa.
  • Siswa tertarik dengan kegiatan permainan ini.
  • Suasana kelas tercipta dengan gairah.
  • Di kelas terjadi interaksi antara siswa dengan siswa dan antara siswa dengan guru.
  • Siswa lebih banyak melakukan kegiatan dari pada guru.
  • Siswa kreatif dalam melakukan kegiatan.
  • Siswa termotivasi untuk melakukan kegiatan.
  • Siswa mampu bekerja sama dalam kelompoknya.
  1. Kekurangan dari Media Puzzle :
  • Membuat siswa hanya ingin bermain-main.
  • Siswa asik dengan susun menyusun.
  • Biaya yang diperlukan untuk membuat alat peraga cukup besar.
  • Suasana kelas menjadi ramai (sedikit ribut).
  • Waktu yang dibutuhkan kurang efektif dan efisien.

Dari pendapat di atas, dapat di simpulkan bahwa penggunaan media puzzle merupakan sarana edukatif yang menunjang perkembangan anak, baik itu kognitif, psikomotorik, maupun afektif. Akan tetapi, kelemahan dari media puzzle dalam pembelajaran adalah suasana kelas menjadi ramai karena hanya digunakan untuk bermain-main, sehingga waktu yang digunakan menjadi tidak efektif dan efisien.

  1. Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar
    1. Pengertian IPS

Menurut Lalabudiati (20111), mengemukakan pengertian IPS menurut para ahli sebagai berikut:

  1. Somantri (Sapriya : 2008 : 9) menyatakan IPS adalah penyederhanaan atau disiplin ilmu ilmu sosial humaniora serta kegiatan dasar manusia yang diorganisasikan dan disajikan secara ilmiah dan pedagogis/psikologis untuk tujuan pendidikan.
  2. Mulyono Tj. (1980:8) berpendapat bahwa IPS adalah suatu pendekatan interdisipliner (inter-disciplinary approach) dari pelajaran ilmu-ilmu soial, seperti sosiologi antropologi budaya, psikologi sosial, sejarah, geografi, ekonomi, politik, dan sebagainya.
  3. Saidiharjo (1996:4)  menyatakan bahwa IPS merupakan kombinasi atau hasil pemfusian atau perpaduan dari sejumlah mata pelajaran seperti : geografi, ekonomi, sejarah,sosiologi,politik
  4. Moeljono Cokrodikardjo mengemukakan bahwa IPS adalah perwujudan dari suatu pendekatan interdisipliner dari ilmu sosial. Ia merupakan integrasi dari berbagai cabang ilmu sosial yakni sosiologi, antropologi budaya, psikologi, sejarah, geografi, ekonomi, ilmu politik dan ekologi manusia, yang diformulasikan untuk tujuan instruksional dengan materi dan tujuan yang disederhanakan agar mudah dipelajari.
  5. Nasution mendefinisikan IPS sebagai pelajaran yang merupakan fusi atau paduan sejumlah mata pelajaran sosial. Dinyatakan bahwa IPS merupakan bagian kurikulum sekolah yang berhubungan dengan peran manusia dalam masyarakat yang terdiri atas berbagai subjek sejarah,ekonomi, geografi, sosiologi, antropologi, dan psikologi sosial.
  6. Tim IKIP Surabaya mengemukakan bahwa IPS merupakan bidang studi yang menghormati, mempelajari, mengolah, dan membahas hal-hal yang berhubungan dengan masalah-masalah human relationship hingga benarbenar dapat dipahami dan diperoleh pemecahannya. Penyajiannya harus merupakan bentuk yang terpadu dari berbagai ilmu sosial yang telah terpilih, kemudian disederhanakan sesuai dengan kepentingan sekolah sekolah.

 

Berdasarkan pendapat-pendapat di atas, dapat di simpulkan bahwa pengertian IPS adalah bidang studi yang mengkaji berbagai ilmu sosial serta mempelajari, mengolah dan membahas hal-hal yang berhubungan dengan manusia dan lingkungannya.

  1. Tujuan Pendidikan IPS

Menurut Sardjiyo, dkk (2009 : 1.28) Secara keseluruhan tujuan pendidikan IPS di SD sebagai berikut:

  1. Membekali anak didik dengan pengetahuan sosial yang berguna dalam kehidupannya kelak di masyarakat.
  2. Membekali anak didik dengan kemampuan mengidentifikasi, menganalisis dan menyusun alternatif pemecahan masalah sosial yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat.
  3. Membekali anak didik dengan kemampuan berkomunikasi dengan sesama warga masyarakat dan berbagai bidang keilmuan serta bidang keahlian.
  4. Membekali anak didik dengan kesadaran, sikap mental yang positif dan keterampilan terhadap pemanfaatan lingkungan hidup yang menjadi bagian dari kehidupan tersebut.
  5. Membekali anak didik dengan kemampuan mengembangkan pengetahuan dan keilmuan IPS sesuai dengan perkembangan kehidupan masyarakat, ilmu pengetahuan dan teknologi.

Sedangkan menurut Kurikulum IPS tahun 2006 (Sardjiyo, dkk, 2009 : 1.28) bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut:

  1. Mengenal konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan lingkungan.
  2. Memiliki kemampuan dasar untuk berfikir logis dan kritis, rasa ingin tahu, inkuiri, memecahkan masalah, dan keterampilan dalam kehidupan sosial.
  1. Memiliki komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaan.
  2. Memiliki kemampuan berkomunikasi, bekerja sama dan berkompetisi dalam masyarakat yang majemuk, di tingkat lokal, nasional dan global.

Jadi, dari pendapat-pendapat diatas dapat di simpulkan bahwa tujuan pendidikan IPS di SD adalah untuk meningkatkan kemampuan peserta didik baik itu bekerja sama, berkomunikasi, maupun keterampilan dalam kehidupan sosial untuk memecahkan masalah.

  1. Materi Pembelajaran IPS

Materi yang di pelajari kelas II SD semester 2 adalah kerja sama di lingkungan tetangga. Pengertian Kerjasama adalah kegiatan yang dilakukan oleh beberapa orang untuk mencapai tujuan bersama (Kuswanto & Suharjanto, 2008 : 84). Sedangkan menurut H. Kusnadi (Pratama : 2013) mengartikan kerjasama sebagai dua orang atau lebih untuk melakukan aktivitas bersama yang dilakukan secara terpadu yang diarahkan kepada suatu target atau tujuan tertentu.Jadi kerja sama adalah suatu aktivitas yang di lakukan bersama dengan tujuan tertentu.

Dalam bekerja sama terdapat bentuk-bentuk kerja sama di lingkungan tetangga (Kuswanto & Suharjanto, 2008 : 84), yaitu:

  • Membangun tempat beribadah
  • Kerja bakti membersihkan lingkungan
  • Kegiatan pemakaman warga
  • Membangun Rumah warga
  • Rapat RT
  • Menjaga keamanan lingkungan

Dalam bekerja sama terdapat manfaat-manfaat yang di rasakan (Kuswanto & Suharjanto, 2008 : 91), yaitu

  1. Meningkatkan rasa persaudaraan
  2. Memupuk rasa persatuan
  3. Pekerjaan cepat selesai
  4. Pekerjaan yang dilakukan lebih ringan

Syarat-syarat kerja sama:

  1. Dilakukan dengan sukarela. Kerja sama harus ikhlas.
  2. Tidak boleh merugikan orang lain.
  3. Mempunyai tujuan yang baik.
  4. Semua harus mendapat keuntungan.

 

  1. Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
    1. Pengertian PTK

Menurut Wardhani & Wihardit (2012 : 1.3) mengemukakan bahwa Penelitian tindakan kelas merupakan terjemahan dari Classroom Action Research, yaitu satu Action Research yang dilakukan di kelas. Action Research diterjemahkan menjadi penelitian tindakan. Sedangkan menurut Mills (Wardhani & Wihardit, 2012 : 1.4) mendefinisikan penelitian tindakan sebagai “system inquiry” yang dilakukan oleh guru, kepala sekolah, atau konselor sekolah untuk mengumpulkan informasi tentang berbagai praktik yang dilakukannya. Selanjutnya definisi Penelitian tindakan kelas menurut Suyanto (Lestari : 2011) adalah suatu bentuk penelitian yang bersifat reflektif dengan melakukan tindakan-tindakan tertentu agar dapat memperbaiki dan meningkatkan praktik-praktik pembelajaran di kelas secara professional.

Dari pendapat-pendapat di atas, dapat di definisikan bahwa Penelitian Tindakan Kelas adalah suatu tindakan penelitian yang dilakukan oleh guru atau kepala sekolah untuk dapat memperbaiki dan meningkatkan pembelajaran di kelas secara professional.

  1. Karakteristik PTK

Menurut Wardhani & Wihardit (2012 : 1.5) mengemukakan bahwa Penelitian Tindakan Kelas (PTK) memiliki karakteristik yang dapat membedakan dengan jenis penelitian lain, yaitu:

  1. Adanya masalah dalam PTK dipicu oleh munculnya kesadaran pada diri guru bahwa praktik yang dilakukannya selama ini di kelas mempunyai masalah yang perlu di selesaikan.
  1. Penelitian melalui refleksi diri, maka PTK mempersyaratkan guru mengumpulkan data dari praktiknya sendidri melalui refleksi diri.
  2. Penelitian tindakan kelas di dalam kelas, sehingga fokus penelitian ini adalah kegiatan pembelajaran berupa perilaku guru dan siswa dalam melakukan interkasi.
  3. Penelitian tindakan kelas bertujuan untuk memperbaiki pembelajaran.

Jadi karakteristik PTK adalah penelitian yang dilakukan di kelas yang di picu oleh munculnya kesadaran diri dan bertujuan untuk memperbaiki pembelajaran melalui refleksi diri.

BAB III

PELAKSANAAN PENELITIAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN

  1. Subjek, Tempat dan Waktu Penelitian serta Pihak yang Membantu
  2. Subjek Penelitian

Subjek penelitian adalah siswa kelas II di SDN Sentul I sebanyak 41 siswa yang terdiri dari 16 orang siswa perempuan dan 25 orang siswa laki-laki.

Di SDN Sentul 1 terdapat beberapa siswa yang memiliki karakteristik khusus, sebagai berikut:

  1. Terdapat dua orang siswa memiliki kecacatan jasmani, yaitu inisial RRAA dan NDA Walaupun memiliki kecatatan keduanya memiliki karakter yang berbeda, RRAA yang mengalami kecacatan di area mata juga memiliki daya tangkap belajar sangat rendah, sehingga dia masih belum bisa membaca dikelasnya. Akan tetapi di kelas tingkat percaya dirinya sangat tinggi, sehingga dia akan selalu bertanya pada guru ketika belum mengerti. Walaupun usai mendapat penjelasan dari guru masih belum mengerti juga atau pada saat di suruh mengerjakan soal tidak sesuai dengan perintah guru. Sedangkan NDA memiliki kecacatan pada area kulit yang di tumbuhi bintik-bintik hitam, sehingga untuk menutupi bintik hitam di area leher, dia memanjangkan rambut, sehingga NDA sedikit kurang percaya diri. Berbeda dengan RRAA yang daya tangkap belajarnya rendah, NDA masih bisa membaca. Sehingga dia masih bisa menjawab soal.
  2. Terdapat dua orang siswa yang memiliki daya tangkap belajar sangat rendah, yaitu RRAA dan MRS. Jika RRAA memiliki kecatatan jasmani di sertai daya tangkap belajar rendah, maka MRS hanya mengalami daya tangkap rendah saja. Dalam hal membaca, dia masih baru mengeja huruf sehingga pada saat mengerjakan soal lebih lama dari teman-temannya.
  3. Selain terdapat siswa yang masuk dalam kategori difabel, ada juga seorang siswa yang setiap di kelas selalu terlihat lemas pada saat proses belajar mengajar di kelas, yaitu YAAS. Walaupun dia di kelas terlihat paling lemas di kelas, akan tetapi nilai hasil evaluasi selalu di atas KKM bahkan selalu mendapat nilai tertinggi di kelasnya.
  1. Tempat Penelitian

Tempat Penelitian dilaksanakan di SDN Sentul I yang berada di Jalan Telaga No. 29 Sentul Kecamatan Purwodadi Kabupaten Pasuruan. Jarak antara jalan raya umum menuju sekolah cukup strategis, yaitu ± 20 meter dan jarak antara sekolah ke pasar ± 50 meter. Sehingga dekat dengan keramaian.

  1. Waktu Penelitian

Penelitian perbaikan pembelajaran IPS Kelas II, pada materi kerja sama di lingkungan tetangga :

Tabel 3.1 Uraian jadwal pelaksanaan penelitian

No. Waktu Pelaksanaan Waktu Jenis Kegiatan
1. Kamis, 24 April 2014 09.00-10.00 Pengambilan Materi Pembelajaran
2. Jum’at, 02 Mei 2014 09.45-11.00 Pelaksanaan Praktek Pembelajaran Pra siklus
3. Rabu, 07 Mei 2014 07.30-09.00 Pelaksanaan Praktek Perbaikan Pembelajaran siklus I
4. Rabu, 14 Mei 2014 07.30-09.00 Pelaksanaan Praktek Perbaikan Pembelajaran siklus II

 

  1. Pihak yang Membantu

Pihak-pihak yang membantu dalam penelitian ini adalah:

  1. Puji Arini, M. MPd. selaku Kepala SDN Sentul 1 yang telah menyediakan tempat penelitian.
  2. Mudji Rahaju. S. Pd. yang berperan sebagai supervisor 2 untuk membimbing pelaksanaan penelitian serta sebagai penilai 2 yang menilai praktik pelaksanaan perbaikan pembelajaran.
  3. Puji Arini, M. MPd selaku penilai 1 yang bertugas menilai saat ujian.
  4. Rustanto R, M. Si. Selaku supervisor 1 yang bertugas membimbing laporan PKP.
  1. Desain Prosedur Perbaikan Pembelajaran

Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) yang dilaksanakan dalam dua siklus. Satu siklus terdiri dari empat komponen yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi.

Berdasarkan fokus perbaikan dalam perumusan masalah dalam pembelajaran IPS, maka langkah-langkah yang di ambil dalam perencanaan perbaikan sebagai berikut:

  1. Pra Siklus
    1. Perencanaan

Berdasarkan hasil tindakan pada pra siklus, maka peneliti menyusun perencanaan sebagai berikut:

  • Membuat rencana pelaksanaan pembelajaran
  • Menyusun lembar evaluasi
  • Menyusun lembar observasi
    1. Pelaksanan
  • Mengkondisikan kelas dengan   berdoa   dan mengabsen siswa.
  • Melakukan   apersepsi
  • Menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan diperoleh siswa.
  • Menjelaskan materi
  • Mengadakan tanya jawab tentang   hal – hal   yang belum   diketahui siswa.
  • Menyimpulkan   materi   pembelajaran yang dilakukan siswa dengan bimbingan guru.
  • Mengadakan   evaluasi   akhir terhadap materi pelajaran   yang   telah disampaikan
    1. Observasi

Penelitian dibantu oleh supervisor 2 melakukan observasi pelaksanaan proses belajar mengajar dengan menggunakan instrument yang ada pada APKG untuk mengetahui sejauh mana pelaksanaan tindakan pembelajaran dengan rencana yang telah disusun sebelumnya dan mengetahui sejauh mana proses belajar yang terjadi dapat dilaksanakan sesuai harapan.

  1. Refleksi

Semua yang telah ditemukan pada saat proses pembelajaran berlangsung didiskusikan dengan supervisor 2, hasil temuan   didiskusikan   untuk mengetahui persentase pelaksanaan pra siklus dan hasil yang diperoleh   dapat   digunakan untuk menentukan jenis tindakan siklus I, dan hasil pra siklus masih   belum   optimal sesuai dengan penulis harapkan, sebab masih ada beberapa siswa yang kurang aktif dalam proses pembelajaran berlangsung hal ini disebabkan penulis tidak menggunakan alat peraga atau media pembelajaran.

  1. Siklus I
    1. Perencanaan

Berdasarkan hasil tindakan pada pra siklus, maka peneliti menyusun perencanaan sebagai berikut:

  • Membuat rencana perbaikan pembelajaran
  • Menyiapkan alat peraga/media berupa gambar slide show power point
  • Menyusun lembar evaluasi
  • Menyusun lembar observasi
    1. Pelaksanan
  • Mengkondisikan kelas dengan   berdoa   dan   menanyakan   kehadiran siswa.
  • Melakukan   apersepsi     dengan     cara     mengajukan     pertanyaan-pertanyaan yang dikaitkan dengan pengalaman siswa sehari-hari.
  • Menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan diperoleh siswa.
  • Menjelaskan materi pembelajaran kepada siswa dengan menggunakan slide show power point
  • Mengadakan tanya jawab tentang   hal – hal   yang belum   diketahui siswa.
  • Menyimpulkan   materi   pembelajaran yang dilakukan siswa dengan bimbingan guru.
  • Mengadakan   evaluasi   akhir terhadap materi pelajaran   yang   telah disampaikan
    1. Observasi

Penelitian dibantu oleh supervisor 2 melakukan observasi pelaksanaan proses belajar mengajar dengan menggunakan instrument yang ada pada APKG dan lembar pengamatan terhadap guru untuk mengetahui sejauh mana pelaksanaan tindakan pembelajaran dengan rencana yang telah disusun sebelumnya dan mengetahui sejauh mana proses belajar yang terjadi dapat dilaksanakan sesuai harapan.

  1. Refleksi

Semua yang telah ditemukan pada saat proses pembelajaran berlangsung didiskusikan dengan supervisor 2, hasil temuan   didiskusikan   untuk mengetahui persentase   pelaksanaan     siklus I dan   hasil   yang   diperoleh   dapat   digunakan untuk menentukan jenis tindakan siklus II, dan hasil siklus I masih   belum   optimal sesuai dengan penulis harapkan, sebab masih ada beberapa siswa yang kurang aktif dalam proses pembelajaran berlangsung hal ini disebabkan kurang maksimal dalam menggunakan alat peraga atau media pembelajaran.

  1. Siklus II
    1. Perencanaan

Berdasarkan hasil tindakan pada siklus I, maka peneliti menyusun perencanaan sebagai berikut:

  • Membuat rencana perbaikan pembelajaran.
  • Menyiapkan alat media berupa puzzle.
  • Menyusun lembar evaluasi
  • Menyusun lembar observasi
    1. Pelaksanaan
  • Mengkondisikan kelas dengan   berdoa   dan   menanyakan   kehadiran siswa.
  • Melakukan    apersepsi     dengan     cara     mengajukan     pertanyaan-pertanyaan tentang materi yang sebelumnya telah di pelajari.
  • Menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan diperoleh siswa.
  • Meminta seorang siswa untuk mengangkat meja ke depan kelas, kemudian meminta seorang siswa lainnya membantu temannya mengangkat meja. Dan selanjutkan meminta dua orang siswa membantu temannya yang mengangkat meja teresebut ketempat duduknya kembali.
  • Siswa dibantu guru menyimpulkan pengertian kerja sama.
  • Guru menjelaskan materi.
  • Guru meminta siswa untuk membuat kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari 4 hingga 5 orang siswa.
  • Guru memberikan puzzle kepada setiap kelompok dan meminta untuk menyatukan puzzle tersebut. Kemudian guru meminta siswa untuk mendiskusikan dengan anggota kelompok untuk menjawab soal yang ada pada puzzle tersebut.
  • Mengadakan tanya jawab tentang   hal – hal   yang belum   diketahui siswa.
  • Menyimpulkan   materi   pembelajaran yang dilakukan siswa dengan bimbingan guru.
  • Mengadakan   evaluasi   akhir terhadap materi pelajaran   yang   telah disampaikan.

 

  1. Observasi

Penelitian dibantu oleh supervisor 2 melakukan observasi pelaksanaan proses belajar mengajar dengan menggunakan instrument yang ada pada APKG dan lembar pengamatan guru untuk mengetahui sejauh mana pelaksanaan tindakan pembelajaran dengan rencana yang telah disusun sebelumnya dan mengetahui sejauh mana proses belajar yang terjadi dapat dilaksanakan sesuai harapan. Serta mengamati kegiatan proses belajar mengajar guru dan siswa.

  1. Refleksi

Semua yang telah ditemukan pada saat proses pembelajaran berlangsung didiskusikan dengan supervisor 2, hasil temuan   didiskusikan   untuk mengetahui persentase   pelaksanaan     siklus II dan   hasil   yang   diperoleh   dapat dikatakan berhasil yaitu sebanyak 34 siswa (83%) telah mencapai KKM, sebanyak 3 siswa (8,5%) belum mencapai KKM dan sisanya sebanyak 3 siswa tidak masuk di karenakan sakit (8,5%). Hasil yang di perolehpun dapat dikatakan berhasil dan memuaskan.

  1. Teknik Analisis Data

Dalam penelitian teknik analisis data meliputi analisis secara kualitatif maupun kuantitatif. Data analisis secara kualitatif diuraikan dalam bentuk deskripsif yang diperoleh dari hasil wawancara dan gambar dokumentasi. Sedangkan data analis secara kuantitatif di uraikan dalam bentuk angka yang di peroleh dari penghitungan skor hasil evaluasi siswa serta pengamatan hasil kerja kelompok.

Untuk data analisis secara kuantitatif dilakukan dengan penafsiran dan interprestasi dengan menggunakan kriteria sebagai berikut:

Nilai = x 10

Presentase = x 100

Rata-rata =

 

 

Tabel 3.2 Format Kriteria Penilaian aktivitas siswa

Produk ( hasil diskusi )

No. Aspek Kriteria Skor
1. Konsep * semua benar

* sebagian besar benar

* sebagian kecil benar

* semua salah

4

3

2

1

 

Performansi

No. Aspek Kriteria Skor
1.

2.

3.

Pengetahuan

Praktek

Sikap

* Pengetahuan

* kadang-kadang Pengetahuan

* tidak Pengetahuan

* aktif Praktek

* kadang-kadang aktif

* tidak aktif

* Sikap

* kadang-kadang Sikap

* tidak Sikap

4

2

1

4

2

1

4

2

1

Kriteria Nilai:

1 = Kurang                  3 = Baik

2 = Cukup                   4 = Sangat Baik

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

  1. Deskripsi Hasil PenelitianPerbaikan Pembelajaran

Sesuai dengan jadwal penelitian pada Bab III di atas, maka hasil penelitian penulis uraikan sebagai berikut:

  1. Pra Siklus
  2. Perencanaan

Penulis melakukan perencanaan di mulai pada tanggal 24 April 2014, yang di rinci sebagai berikut:

  • penulis meminta materi pada SDN Sentul 1 untuk di jadikan Rencana Pembelajaran.
  • Selain meminta materi kepada wali kelas II atau supervisor 2, penulis juga melakukan observasi berupa wawancara tentang karakter-karakter siswa, terutama kepada siswa yang memiliki karakter khusus.
  • Menentukan Standar Kompetensi,

Standar kompetensinya adalah memahami kedudukan dan peranan anggota dalam keluarga dan lingkungan tetangga.

  • Menentukan Kompetensi Dasar

Kompetensi dasarnya, yaitu Memberikan contoh bentuk kerja sama di lingkungan tetangga.

  • Menentukan indikator pembelajaran

Indikator pembelajarannya, yaitu

  • Memberi contoh bentuk kerjasama di lingkungan keluarga dan tetangga.
  • Menjelaskan arti kerjasama di lingkungan tetangga.
  • Menentukan Tujuan Pembelajaran

Tujuan pembelajaran dari pra siklus ini adalah :

  • Menjelaskan arti kerjasama di lingkungan tetangga
  • Memberi 3 contoh bentuk kerjasama di lingkungan tetangga
  • Siswa dapat menyebutkan 3 manfaat kerjasama
  • Menentukan Materi

Materi yang akan disampaikan adalah kerja sama di lingkungan tetangga.

  • Menentukan Metode Pembelajaran

Metode yang akan di gunakan adalah ceramah

  1. Pelaksanaan
  • Kegiatan awal
  • Guru memberikan informasi bahwa pelajaran akan segera dimulai, siswa menyiapkan diri dan berdo’a
  • Guru membuka salam, absen siswa, mengatur tempat duduk siswa, menyiapkan media dan alat tulis dan sumber belajar
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran.
  • Kegiatan Inti
  • Guru menjelaskan materi tentang kerja sama di lingkungan tetangga.

Gambar 4.1 Guru melakukan pembelajaran

dengan menggunakan metode ceramah

  • Guru menanyakan kepada siswa, contoh bentuk kerja sama di lingkungan sekolah, lingkungan tetangga dan lingkungan keluarga.
    • Guru bertanya jawab tentang hal-hal yang belum diketahui siswa
    • Guru bersama siswa bertanya jawab meluruskan kesalahan pemahaman, memberikan penguatan.
  • Kegiatan Penutup
    • Siswa dengan bimbingan guru untuk menyimpulkan materi yang telah dipelajari bersama-sama
    • Evaluasi pembelajaran dengan memberi pertanyaan
    • Tindak lanjut dengan memberi tugas atau PR
    • Guru menutup pelajaran, siswa berdo’a
  1. Observasi

Hasil observasi berupa hasil evaluasi belajar selama proses pembelajaran pra siklus, tertera pada tabel di bawah ini:

Tabel 4.1 Lembar Pengamatan Kinerja Guru Pra Siklus

No. Aspek yang di Obeservasi*) Kemunculan**) Komentar***)
Ada Tidak
1. Penerapan Variasi Metode
Ceramah:

·       Menjelaskan pokok-pokok materi secara sistematis

·       Memberi ilustrasi

Penjelasan materi cukup, akan tetapi belum ada media yang di gunakan

Tanya Jawab :

·       Mengajukan pertanyaan

·       Memberikan kesempatan kepada siswa bertanya

Sebaiknya Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya materi yang belum di mengerti.
Kerja Kelompok:

·      Menjelaskan tugas yang harus dikerjakan

·      Membagikan LKS

·      Melakukan supervisi terhadap kegiatan kelompok

·      Memberi bantuan kepada kelompok

Belum ada pembentukan kelompok

2. Penggunaan media gambar
Penggunaan gambar:

·      Memajang gambar

·      Meminta Komentar

Belum ada penggunaan media

 

Berdasarkan table kinerja guru di atas, menunjukkan bahwa kinerja guru belum menunjukkan kurang menguasai kelas, sehingga siswa banyak yang terlihat bermain , atau berbicara dengan teman sebangkunya.

Tabel 4.2

Hasil observasi evaluasi pembelajaran siswa

Mata pelajaran IPS Pra Siklus

No. Nama Nilai
1. MRS 20
2. NDA 20
3. SAR 60
4. AMFN 60
5. AAHN 40
6. AND s
7. AYLP 80
8. ANM s
9. DAAAW s
10. DA 80
11. DM 60
12. DDK 60
13. DDP 40
14. ENS 40
15. HFI 80
16. IRP 40
17. KSN 40
18. MU 60
19. MIN 60
20. MBA 20
21. MIF 60
22. MR s
23. MS 60
24. MZR 40
25. MZN 80
26. NPKS 60
27. NRS 40
28. NSE 80
29. PKS 60
30. RFTA s
31. RDAP 40
32. RAAP 70
33. RGP 30
34. RIP 90
35. RRAA
36. SF 60
37. SPKS 70
38 S 80
39. SG 80
40. YAAS 100
41. ZFR 40
Jumlah 2000
Rata-rata 48,78

Dari tabel di atas, dapat di lihat juga melalui diagram batang dan grafik di bawah ini:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 4.2 Jumlah Siswa yang mencapai KKM

Mata Pelajaran IPS Pra Siklus

Gambar 4.3 Grafik Kriteria Ketuntasan Minimal siswa

Mata Pelajaran IPS Pra Siklus

 

Dari tabel dan diagram di atas, dari 41 siswa yang mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) sebesar 70, yaitu sebanyak 11 orang siswa (26,8%) yang mencapai KKM. Sedangkan yang tidak mencapai KKM sebanyak 25 orang siswa (60,9%), dan yang tidak masuk sekolah 4 orang siswa (9,8%) dan memiliki kebutuhan khusus sebanyak 1 orang siswa (2,5%). Dari hasil evaluasi yang diperoleh siswa, penulis perlu mengadakan perbaikan pembelajaran siklus I karena sebanyak 25 siswa (60,9%) tidak mencapai KKM.

  1. Refleksi

Dalam mengadakan refleksi, penulis telah melakukan diskusi dengan supervisor 2 dan berkonsultasi tentang temuan-temuan yang ada pada siklus I. Pada saat menjelaskan materi, masih ada siswa yang sedang mengobrol dengan teman sebangkunya, ada beberapa siswa yang sedang bercanda dengan teman sebangkunya. Dan dari hasil evaluasi belajar siswa sendiri, hanya ada 11 orang siswa yang mencapai KKM dari 41 orang siswa. Keadaan ini dirasakan pelaksanaan kurang berjalan secara optimal. Oleh karena itu, pada pelaksanaan siklus I di perlukan perbaikan pembelajaran, yaitu:

  • Guru harus menggunakan media yang menarik.
  • Guru harus menguasai kelas.

 

  1. Siklus I
    1. Perencanaan

Penulis melakukan perencanaan sesuai dengan langkah-langkah sebagai berikut:

  • Menentukan Standar Kompetensi,

Standar kompetensinya adalah memahami kedudukan dan peranan anggota dalam keluarga dan lingkungan tetangga.

  • Menentukan Kompetensi Dasar

Kompetensi dasarnya, yaitu Memberikan contoh bentuk kerja sama di lingkungan tetangga.

  • Menentukan indikator pembelajaran

Indikator pembelajarannya, yaitu

  • Memberi contoh bentuk kerjasama di lingkungan keluarga dan tetangga.
  • Menjelaskan arti kerjasama di lingkungan tetangga.
  • Menentukan Tujuan Perbaikan

Bagi siswa:

  • Meningkatkan kemampuannya untuk menyebutkan manfaat kerja sama melalui peragaan berupa gambar .
  • Meningkatkan kemampuannya untuk menjelaskan arti kerjasama melalui peragaan mengangkat meja.
  • Meningkatkan kemampuannya untuk menyebutkan bentuk-bentuk kerjasama di lingkungan keluarga melalui tanya jawab.
  • Meningkatkan kerjasama dengan menjalakan kerja kelompok.

Bagi Guru:

  • Meningkatkan penguasaan guru terhadap kelas dengan menggunakan media gambar dalam pembelajaran kerja sama.
  • meningkatkan hasil belajar siswa dengan menggunakan media gambar
  • Menentukan Materi

Materi yang akan disampaikan adalah kerja sama di lingkungan tetangga.

  • Menentukan Metode Pembelajaran

Metode yang akan di gunakan adalah ceramah, Tanya jawab

  • Media Pembelajaran

Power point slide show

  1. Pelaksanaan
  • Kegiatan Awal :
    • Guru memberikan informasi bahwa pelajaran akan segera dimulai, siswa menyiapkan diri dan berdo’a
    • Guru membuka salam, absen siswa, mengatur tempat duduk siswa, menyiapkan media dan alat tulis dan sumber belajar
  • Kegiatan inti:
  • Guru mengingatkan materi yang telah di bahas kemarin.
  • Guru menjelaskan materi kepada siswa dengan menunjukkan media gambar dengan menggunakan slide show power point.

 

 

Gambar 4.4 Guru melakukan pembelajaran dengan menggunakan metode slide show power point

 

  • Guru bertanya kepada siswa contoh bentuk-bentuk kerja sama apa yang pernah di lakukan.
  • Guru membahas pekerjaan rumah.
    • Guru bertanya jawab tentang hal-hal yang belum diketahui siswa
    • Guru bersama siswa bertanya jawab meluruskan kesalahan pemahaman, memberikan penguatan.
  • Kegiatan akhir
  • Siswa dengan bimbingan guru untuk menyimpulkan materi yang telah dipelajari bersama-sama
  • Evaluasi pembelajaran dengan memberi pertanyaan
  • Tindak lanjut dengan memberi tugas atau PR
  • Guru menutup pelajaran, siswa berdo’a
  1. Observasi
  • Hasil observasi supervisor 2 terhadap penyampaian materi dengan menggunakan metode bervariasi tertera pada tabel di bawah ini:

Tabel 4.3 Lembar Pengamatan Terhadap Kinerja Guru Siklus I

No. Aspek yang di Observasi*) Kemunculan**) Komentar***)
Ada Tidak
1. Penerapan Variasi Metode
Ceramah:

·       Menjelaskan pokok-pokok materi secara sistematis

·       Memberi ilustrasi

Penjelasan materi cukup, akan tetapi belum ada ilustrasi yang nyata diperagakan sendiri oleh siswa.

Tanya Jawab :

·       Mengajukan pertanyaan

·       Memberikan kesempatan kepada siswa bertanya

Sebaiknya Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya materi yang belum di mengerti.
Kerja Kelompok:

·      Menjelaskan tugas yang harus dikerjakan

·      Membagikan LKS

·      Melakukan supervisi terhadap kegiatan kelompok

·      Memberi bantuan kepada kelompok

Belum ada pembentukan kelompok

2. Penggunaan media gambar berupa slide show power point
Penggunaan gambar:

·      Meminta komentar siswa

·      Membaca bersama-sama

Sebaiknya setelah membaca bersama-sama, guru meminta salah seorang siswa membaca sendiri agar terpacu untuk belajar.

Berdasarkan tabel lembar pengamatan kinerja guru di atas yang di peroleh dari supervisor 2 menunjukkan aktivitas guru yang kurang berinteraksi langsung dengan siswa, sehingga siswa menjadi pasif di kelas.

  • Hasil observasi siswa berupa keaktifan siswa selama proses pembelajaran siklus I, tertera pada tabel di bawah ini:

Tabel 4.4

Hasil observasi keaktifan pembelajaran siswa

Mata pelajaran IPS Siklus I

No. Nama Keaktifan Siswa Keterangan
1 2 3 4 5
1. MRS 1.    Aktif Bertanya
2. NDA 2.    Aktif Menjawab
3. SAR 3.    Melaksanakan Perintah
4. AMFN 4.  Tidak AKtif
5. AAHN 5.  Mengobrol
6. AND
7. AYLP
8. ANM
9. DAAAW
10. DA
11. DM
12. DDK
13. DDP
14. ENS
15. HFI
16. IRP
17. KSN
18. MU
19. MIN
20. MBA
21. MIF
22. MR
23. MS
24. MZR
25. MZN
26. NPKS
27. NRS
28. NSE
29. PKS
30. RFTA
31. RDAP
32. RAAP
33. RGP
34. RIP
35. RRAA
36. SF
37. SPKS
38 S
39. SG
40. YAAS
41. ZFR
Jumlah 7 17 36 9 18
Persen (%) 17,07 41,46 87,80 21,95 43,90

Berdasarkan tabel 4.3 di atas, hasil observasi aktivitas siswa masih rendah. Hal ini di buktikan dengan jumlah aktivitas bertanya hanya 7 orang siswa (17,07%), aktif menjawab hanya 17 orang siswa (41,46), melaksanakan perintah ada 36 orang siswa, tidak aktif ada 9 orang siswa (21,95%) dan mengobrol ada 18 orang siswa (43,90%).

  • Hasil observasi siswa berupa hasil evaluasi siswa selama proses pembelajaran siklus I, tertera pada tabel di bawah ini:

 

Tabel 4.5

Hasil observasi evaluasi pembelajaran siswa

Mata pelajaran IPS Siklus I

No. Nama Nilai
1. MRS 20
2. NDA 60
3. SAR S
4. AMFN 70
5. AAHN 70
6. AND 80
7. AYLP s
8. ANM 80
9. DAAAW 60
10. DA 80
11. DM 90
12. DDK 70
13. DDP 70
14. ENS 60
15. HFI 60
16. IRP s
17. KSN 80
18. MU 70
19. MIN 80
20. MBA 70
21. MIF 70
22. MR 80
23. MS 80
24. MZR 60
25. MZN s
26. NPKS 80
27. NRS 80
28. NSE 80
29. PKS 100
30. RFTA 100
31. RDAP s
32. RAAP 80
33. RGP 60
34. RIP 80
35. RRAA
36. SF 70
37. SPKS 60
38 S 60
39. SG 60
40. YAAS 90
41. ZFR 70
Jumlah 2530
Rata-rata 61,70

Dari tabel diatas dapat juga di lihat melalui diagram batang dan grafik seperti di bawah ini:

Gambar 4.5 Jumlah Siswa yang mencapai KKM

Mata Pelajaran IPS Siklus I

Gambar 4.6 Grafik Kriteria Ketuntasan Minimal siswa

Mata Pelajaran IPS Siklus I

Dari tabel dan diagram di atas, dari 41 siswa yang mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) sebesar 70, yaitu sebanyak 25 orang siswa (60,9%) yang mencapai KKM. Sedangkan yang tidak mencapai KKM sebanyak 10 orang siswa (24,4%), dan yang tidak masuk sekolah 5 orang siswa (12,2%) dan memiliki kebutuhan khusus sebanyak 1 orang siswa (2,5%). Dari hasil evaluasi yang diperoleh siswa, penulis perlu mengadakan perbaikan pembelajaran siklus II karena masih ada siswa yang belum mencapai KKM.

  1. Refleksi

Dalam mengadakan refleksi, penulis telah melakukan diskusi dengan supervisor 2 dan berkonsultasi tentang temuan-temuan yang ada pada siklus I. Pada saat menjelaskan materi, masih ada siswa yang sedang mengobrol dengan teman sebangkunya, ada beberapa siswa yang kurang bersemangat dalam pelajaran. Dan dari hasil evaluasi belajar siswa, rata-rata kesalahan menjawab soal pada saat siswa di minta untuk menjawab pengertian kerjasama. Keadaan ini dirasakan pelaksanaan kurang berjalan secara optimal. Oleh karena itu, pada pelaksanaan siklus II di perlukan perbaikan pembelajaran, yaitu:

  • Guru harus mampu menguasai kelas
  • Guru harus menciptakan suasana belajar yang menyenangkan
  • Guru harus menggunakan metode yang menarik dan sesuai dengan materi.
  • Guru harus memberikan pengalaman belajar secara langsung kepada siswa.
  1. Siklus II
    1. Perencanaan

Penulis melakukan langkah-langkah sebagai berikut:

  • Menentukan Standar Kompetensi,

Standar kompetensinya adalah memahami kedudukan dan peranan anggota dalam keluarga dan lingkungan tetangga.

  • Menentukan Kompetensi Dasar

Kompetensi dasarnya, yaitu Memberikan contoh bentuk kerja sama di lingkungan tetangga.

  • Menentukan indikator pembelajaran

Indikator pembelajarannya, yaitu

  • Memberi contoh bentuk kerjasama di lingkungan keluarga dan tetangga.
  • Menjelaskan arti kerjasama di lingkungan tetangga.
  • Menentukan Tujuan Perbaikan
  • Meningkatkan kemampuannya untuk menyebutkan manfaat kerja sama melalu
  • Meningkatkan kemampuannya untuk menjelaskan arti kerjasama melalui peragaan mengangkat meja.
  • Meningkatkan kemampuannya untuk menyebutkan bentuk-bentuk kerjasama di lingkungan keluarga melalui tanya jawab.
  • Meningkatkan kerjasama dengan menjalakan kerja kelompok.
  • Menentukan Materi

Materi yang akan disampaikan adalah kerja sama di lingkungan tetangga.

  • Menentukan Metode Pembelajaran

Metode yang akan di gunakan adalah kerja kelompok

  • Media Pembelajaran

Bangku kelas dan Puzzle yang berisi soal untuk di diskusikan

  1. Pelaksanaan
  • Kegiatan Awal
  • Mengkondisikan kelas dengan   berdoa   dan   menanyakan   kehadiran siswa.
  • Melakukan   apersepsi     dengan     cara     mengajukan     pertanyaan-pertanyaan tentang materi yang sebelumnya telah di pelajari.
  • Menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan diperoleh siswa.
    • Kegiatan Inti
  • Meminta seorang siswa untuk mengangkat meja ke depan kelas, kemudian meminta seorang siswa lainnya membantu temannya mengangkat meja. Dan selanjutkan meminta dua orang siswa membantu temannya yang mengangkat meja teresebut ketempat duduknya kembali.

Gambar 4.7 Siswa melakukan contoh bentuk kerja sama

  • Siswa dibantu guru menyimpulkan pengertian kerja sama.

 

 

Gambar 4.8 Siswa menyimpulkan pengertian kerja sama

  • Guru menjelaskan materi.
  • Guru meminta siswa untuk membuat kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari 4 hingga 5 orang siswa.
  • Guru memberikan puzzle kepada setiap kelompok dan meminta untuk menyatukan puzzle tersebut. Kemudian guru meminta siswa untuk mendiskusikan dengan anggota kelompok untuk menjawab soal yang ada pada puzzle tersebut.

Gambar 4.9 Siswa melakukan kerja kelompok dengan menyatukan puzzle

  • Mengadakan tanya jawab tentang   hal – hal   yang belum   diketahui siswa.
    • Kegiatan Penutup
  • Menyimpulkan   materi   pembelajaran yang dilakukan siswa dengan bimbingan guru.
  • Mengadakan   evaluasi   akhir terhadap materi pelajaran   yang   telah disampaikan.
    1. Observasi
  • Hasil observasi supervisor 2 terhadap penyampaian materi dengan menggunakan metode bervariasi tertera pada tabel di bawah ini:

Tabel 4.6 Lembar Pengamatan Terhadap Kinerja Guru Siklus II

No. Aspek yang di Obeservasi*) Kemunculan**) Komentar***)
Ada Tidak
1. Penerapan Variasi Metode
Ceramah:

·       Menjelaskan pokok-pokok materi secara sistematis

·       Memberi ilustrasi

Penjelasan materi bagus, disertai ilustrasi yang diperagakan oleh siswa sendiri dengan mengangkat bangku ke depan.
Tanya Jawab :

·       Mengajukan pertanyaan

·       Memberikan kesempatan kepada siswa bertanya

Perlu diberi motivasi lagi agar siswa berani untuk mengajukan pertanyaan.
Kerja Kelompok:

·      Menjelaskan tugas yang harus dikerjakan

·      Membagikan LKS

·      Melakukan supervisi terhadap kegiatan kelompok

·      Memberi bantuan kepada kelompok

·      Melakukan pembahasan bersama

Pembentukan kelompok sebaiknya di acak secara merata, tidak mengelompokkan sesuai dengan keinginan siswa sendiri.
2. Penggunaan media gambar berupa puzzle
Penggunaan gambar:

·      Merangkai/menggabungkan gambar

·      Meminta komentar siswa

·      Melatih kerja sama

Karena pembagian kelompok tidak merata, ada sebagian siswa pasif dan ada pula yang aktif.
Penggunaan Benda nyata:

·      Bangku yang di angkat siswa

·      Menyatukan puzzle bersama

Penggunaan media sudah bagus, tetapi siswa perlu di beri arahan lagi agar tidak bermain-main dan menghabiskan waktu percuma.

Berdasarkan tabel lembar pengamatan kinerja guru di atas yang di peroleh dari supervisor 2 menunjukkan media yang guru gunakan dapat meningkatkan aktivitas siswa, akan tetapi siswa membuang waktu dengan percuma, karena lebih banyak di gunakan untuk bermain puzzle.

  • Hasil observasi siswa berupa aktivitas belajar selama proses pembelajaran Siklus II tertera pada tabel berikut:

Tabel 4.7

Hasil observasi aktivitas belajar siswa dalam kerja kelompok

Mata pelajaran IPS Siklus II

Kelompok Nama Performan Produk Jumlah

Skor

Nilai
Pengetahuan Praktek Sikap
1 Della 4 4 4 4 16 4
Navisa 4 4 4 4 16 4
Salsa 4 4 4 4 16 4
Dinda 4 4 4 4 16 4
Inggid 4 4 4 4 16 4
2 Rizal 1 2 2 3 8 2
Rizky 4 4 4 3 15 3,75
Novan 2 2 2 3 9 2,25
Sandi 1 2 2 3 8 2
Rinda 4 4 4 3 15 3,75
3 Akbar 4 2 4 3 13 3,25
Ikhsan 4 4 2 3 13 3,25
Elvina 2 4 4 3 13 3,25
Sasti 4 4 4 3 15 3,75
4 Ghulam 4 2 4 2 12 3
Fauqo 4 2 4 2 12 3
Fathur 4 2 4 2 12 3
Izzatur 4 2 4 2 12 3
Nabila 4 2 4 2 12 3
5 Raihan 4 4 4 4 16 4
Zaki 4 4 4 4 16 4
Afif 4 4 4 4 16 4
Balyan 4 4 4 4 16 4
Alkha 4 4 2 4 14 3,5
6 Arga 4 4 4 3 15 3,75
Rizki 4 4 4 3 15 3,75
Manda 4 4 3 11 2,75
Sahrul 4 2 2 3 11 2,75
Rozi 4 2 2 3 11 2,75
7 Khoirrunisa’ 4 4 2 2 12 3
Ubadillah 4 4 2 2 12 3
Riyan 4 4 2 2 12 3
Nova 4 4 2 2 12 3
Fira 4 4 2 2 12 3
8 Galih 2 2 2 2 8 2
Jaya 1 2 2 2 7 1,75
Anggi 4 2 4 2 12 3
Fia 2 2 2 2 8 2

Kriteria Nilai:

1 = kurang                   3 = baik

2 = cukup                    4 = sangat baik

Berdasarkan tabel keaktifan siswa menunjukkan siswa yang memperoleh keaktifan sangat baik sebesar 9 orang siswa (21,9%), yang memperoleh keaktifan baik sebesar 20 orang siswa (48,7%), dan yang memperoleh keaktifan cukup sebesar 8 orang siswa (19,6%) serta yang memperoleh keatifan kurang hanya di peroleh 1 orang siswa (2,5% ) dan sisanya sebesar 3 orang siswa (7,3%) tidak masuk sekolah. Jadi dapat di simpulkan bahwa aktivitas belajar pada siklus 2 menunjukkan hasil yang baik.

Tabel 4.8

Hasil observasi keaktifan pembelajaran siswa

Mata pelajaran IPS Siklus I

No. Nama Keaktifan Siswa Keterangan
1 2 3 4 5
1. MRS 1.Aktif Bertanya
2. NDA 2.Aktif Menjawab
3. SAR 3.Melaksanakan Perintah
4. AMFN 4.Tidak AKtif
5. AAHN 5.Mengobrol
6. AND
7. AYLP
8. ANM
9. DAAAW
10. DA
11. DM
12. DDK
13. DDP
14. ENS
15. HFI
16. IRP
17. KSN
18. MU
19. MIN
20. MBA
21. MIF
22. MR
23. MS
24. MZR
25. MZN
26. NPKS
27. NRS
28. NSE
29. PKS
30. RFTA
31. RDAP
32. RAAP
33. RGP
34. RIP
35. RRAA
36. SF
37. SPKS
38 S
39. SG
40. YAAS
41. ZFR
Jumlah 23 26 37 2 3
Persen (%) 56,09 63,41 90,24 4,87 7,31

Berdasarkan tabel di atas, hasil observasi aktivitas siswa pada siklus II sudah menunjukkan hasil yang baik. Aktivitas siswa yang bertanya ada 23 orang siswa (56,09%), aktif menjawab ada 26 orang siswa (63,41%), melaksanakan perintah ada 37 orang siswa (90,24%), tidak aktif ada 2 orang siswa (4,87%) dan mengobrol ada 3 orang siswa (7,31%).

  • Hasil observasi siswa berupa hasil belajar selama proses pembelajaran Siklus II tertera pada tabel berikut:

Tabel 4.9

Hasil observasi evaluasi pembelajaran siswa

Mata pelajaran IPS Siklus II

No. Nama Nilai
1. MRS 50
2. NDA 70
3. SAR 60
4. AMFN 90
5. AAHN 80
6. AND 100
7. AYLP 90
8. ANM 90
9. DAAAW 80
10. DA 90
11. DM 100
12. DDK 100
13. DDP 80
14. ENS 70
15. HFI 70
16. IRP 90
17. KSN 100
18. MU 80
19. MIN 100
20. MBA 90
21. MIF 80
22. MR 90
23. MS 90
24. MZR 90
25. MZN 100
26. NPKS 90
27. NRS 90
28. NSE S
29. PKS S
30. RFTA 100
31. RDAP S
32. RAAP 80
33. RGP 70
34. RIP 80
35. RRAA
36. SF 90
37. SPKS 90
38 S 60
39. SG 90
40. YAAS 100
41. ZFR 90
Jumlah 3160
Rata-rata 77,07

Gambar 4.10 Jumlah Siswa yang mencapai KKM

Mata Pelajaran IPS Siklus II

Gambar 4.11 Grafik Kriteria Ketuntasan Minimal siswa

Mata Pelajaran IPS Siklus II

Dari tabel dan diagram di atas, dari 41 siswa yang mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) sebesar 70, yaitu sebanyak 34 orang siswa (82,9%) yang mencapai KKM. Sedangkan yang tidak mencapai KKM sebanyak 3 orang siswa (7,3%), dan yang tidak masuk sekolah 3orang siswa (7,3%) dan memiliki kebutuhan khusus sebanyak 1 orang siswa (2,5%). Dari hasil evaluasi yang diperoleh siswa menunjukkan hasil yang memuaskan. Untuk ketiga siswa yang tidak mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal, memang sedikit memiliki kterbatasan berfikir, satu diantaranya masuk dalam kategori difabel.

  1. Refleksi

Hasil refleksi pada siklus II ini sudah menunjukkan hasil yang memuaskan, dilihat dari siswa yang mendapatkan nilai 100 ada 8 orang siswa, nilai 90 ada 15 orang siswa, nilai 80 ada 7 orang siswa, nilai 70 ada 4 orang siswa, sisanya di bawah KKM dan tidak masuk sekolah.

  1. Pembahasan Hasil Penelitian Perbaikan Pembelajaran
  • Pembahasan Pra Siklus

Berdasarkan hasil pengamatan dengan supervisor 2 pada pelakasanaan pra siklus penggunaan metode ceramah yang dilakukan oleh guru ternyata kurang efektif dan maksimal karena masih ada siswa yang bercanda maupun berbicara dengan teman sebangkunya pada saat guru menjelaskan materi. Sehingga hasil yang diperoleh tidak memuaskan, banyak siswa yang mendapat nilai di bawah KKM yaitu sebanyak 25 siswa dari 41 mendapat nilai di bawah KKM, Sehingga pada siklus ke 1 peneliti menggunakan metode yang bervariasi dengan menggunakan media slide show power point.

  • Pembahasan Siklus 1    

Pada siklus ke 1 guru menggunakan metode yang bervariasi dengan menggunakan media slide show power point, ternyata siswa lebih tertarik untuk mendengarkan penjelasan guru. Akan tetapi masih ditemukan siswa yang sedang berbicara dengan teman sebangkunya. Selain itu, tidak ada interaksi antara guru dan murid melalui tanya jawab dalam pembelajaran sehingga siswa kurang aktif dalam proses pembelajaran. Hasil yang diperoleh masih kurang memuaskan yaitu sebanyak 10 siswa dari 41 siswa mendapat nilai di bawah KKM.

  • Pembahasan Siklus 2

Pada siklus 2 ini guru menggunakan media puzzle dengan metode kerja kelompok agar siswa yang masih pasif pada saat pembelajaran berlangsung dapat berinteraksi dengan teman sekelas, sekaligus mengamplikasikan secara langsung arti dari kerja sama, sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa, sekaligus dapat melatih kerja sama tim sejak dini. Perbaikan   yang   nampak   pada   proses   pembelajaran tersebut adalah sebagai berikut :

  1. Dengan menggunakan benda di sekitar seperti bangku kelas, siswa dapat menyimpulkan pengertian kerja sama dengan cara mengangkat bangku tersebut dengan mengakat sendirian maupun bersama-sama.
  2. Dengan menggunakan metode kerja kelompok, dapat melatih siswa untuk ikut aktif dalam proses pembelajaran sehingga pembelajaran lebih bermakna dan siswa kreatif selama pembelajaran berlangsung.
  3. Dengan penggunaan   media puzzle, siswa menjadi tertantang untuk memecahkan masalah dengan menyatukan puzzle, sehingga siswa menjadi aktif di kelas dengan bersosialisasi dengan teman sekelasnya serta pemahaman tentang materi pelajaran semakin meningkat.

Pada siklus ke 2 ini hasil evaluasi sudah memuaskan dan nilai rata–rata siswa mencapai 77,07 atau terjadi peningkatan sebesar 15,37 dari pembelajaran siklus I.

Tabel 4.10 Hasil Evaluasi siswa pra siklus, siklus I dan Siklus II

Mata pelajaran IPS kelas II

No. Nama Nilai
Pra siklus Siklus I Siklus II
1. MRS 20 20 50
2. NDA 20 60 70
3. SAR 60 s 60
4. AMFN 60 70 90
5. AAHN 40 70 80
6. AND s 80 100
7. AYLP 80 s 90
8. ANM s 80 90
9. DAAAW s 60 80
10. DA 80 80 90
11. DM 60 90 100
12. DDK 60 70 100
13. DDP 40 70 80
14. ENS 40 60 70
15. HFI 80 60 70
16. IRP 40 s 90
17. KSN 40 80 100
18. MU 60 70 80
19. MIN 60 80 100
20. MBA 20 70 90
21. MIF 60 70 80
22. MR s 80 90
23. MS 60 80 90
24. MZR 40 60 90
25. MZN 80 s 100
26. NPKS 60 80 90
27. NRS 40 80 90
28. NSE 80 80 s
29. PKS 60 100 s
30. RFTA s 100 100
31. RDAP 40 s s
32. RAAP 70 80 80
33. RGP 30 60 70
34. RIP 90 80 80
35. RRAA
36. SF 60 70 90
37. SPKS 70 60 90
38 S 80 60 60
39. SG 80 60 90
40. YAAS 100 90 100
41. ZFR 40 70 90
Jumlah 2000 2530 3160
Rata-rata 48,78 61,70 77,07

Peningkatan hasil belajar siswa dari pra siklus, siklus I, Siklus II dapat dilihat dalam bentuk diagram dan grafik dibawah ini :

Gambar 4.12 Diagram peningkatan perbaikan pembelajaran

Berdasarkan diagram batang di atas dapat di simpulkan bahwa terjadi peningkatan pembelajaran dari Pra siklus, siklus I hingga Siklus II. Akan tetapi masih ada di temukan siswa yang tidak masuk di karenakan sakit atau dengan alasan yang tidak jelas. Hal ini juga perlu di cermati lagi penyebab masih adanya siswa yang tidak masuk. Apakah karena dalam proses belajar mengajar siswa merasa tertekan atau di karenakan keadaan keadaan keluarga siswa yang sedang terjadi masalah. Namun secara keseluruhan pemeblajaran siklus 2 sangat memuaskan, sehingga nilai perbaikan cukup sampai pada siklus 2.

Gambar 4.13 Grafik peningkatan Perbaikan pembelajaran

Dari grafik di atas, dapat di lihat naik turunnya hasil belajar siswa. Kebanyakan hasil belajar siswa yang mendapatkan nilai 0 di karenakan tidak masuk. Akan tetapi ada seorang siswa yang yang selalu mendapat nilai 0 dalam setiap hasil evaluasi, yaitu hasil evaluasi yang di peroleh oleh RRAA. Hal ini disebabkan karena daya serap belajar siswa sangat rendah, di tambah lagi cacat yang di alaminya, sehingga di perlukan perhatian khusus. Akan tetapi mengingat jumlah siswa yang sangat besar, membuat pelakuan khusus untuk RRAA belum optimal dan di tambah lagi penulis tidak memiliki pengalaman untuk menangani siswa yang memiliki kebutuhan khusus. Selain mencermati siswa yang mendapat nilai 0 sejak awal proses pembelajaran pra siklus, dari grafik di atas juga dapat di lihat nilai yang selalu enjadi nilai tertinggi di kelasnya. Nilai tersebut di peroleh YAAS, akan tetapi ketika pembelajaran di kelas siswa tersebut selalu terlihat lemas dan tidak bertenaga. Dari hasil wawancara dengan guru kelas di peroleh infiormasi menurut penuturan orang tua siswa bahwa siswa tersebut tidak pernah makan nasi dan sayur di rumah, dan lebih suka makan kue atau makanan ringan yang di jual pedagang kaki lima serta mie instan. Sehingga mengakibatkan siswa tersebut terlihat lemas di kelas. Selanjutnya dari grafik tersebut dapat di peroleh informasi juga bahwa ada yang selalu mendapat nilai di bawah KKM, yaitu MRS. Keadaan siswa tersebut memang hampir sama dengan RRAA yang memiliki daya serap belajar rendah, akan tetapi berbeda dengan RRAA yang belum bisa membaca, MRS masih dalam tahap mengeja huruf sehingga pada saat mengerjakan evaluasi belajar sangat lama.

Gambar 4. 14 Diagram batang peningkatan keaktifan siswa

Berdasarkan Diagram diatas, dapat di lihat perbedaan aktivitas siswa dari Siklus I hingga siklus II. Untuk siswa yang masih mengobrol pada siklus II, di karenakan siswa ini sedikit hiperaktif, suka mencari perhatian teman di kelasnya, baik itu dengan menjahili temannya maupun mengajka temannya untuk berbicara. Sedangkan keaktifan siswa yang masih tidak aktif, dapat di beri catatan bahwa siswa ini memiliki keterlambatan dalam menyerap pelajaran di kelas seperti yang sudah di jelaskansebelumnya.

Berdasarkan hasil evaluasi belajar dan keaktifan siswa pembelajaran Siklus II, dapat di simpulkan bahwa pembelajaran dengan mengkombinasikan metode kerja kelompok dengan menggunakan media puzzle dapat meningkatkan hasil belajar siswa dan aktivitas siswa yang di laksanakan penulis pada kelas II di SDN Sentul I. Hal ini sesuai dengan pendapat Hildebrand (Syukron : 2011) bahwa proses belajar mengajar anak lebih ditekankan pada “berbuat” daripada mendengarkan ceramah, maka dengan pemberian bahan-bahan dan aktivitas sedemikian rupa sehingga anak belajar menurut pengalamannya sendiri dan membuat kesimpulan dengan pikirannya sendiri. Hal ini juga di dukung oleh pendapat Al-Azizy (Eva Niko : 2013) menjelaskan bahwa salah satu permainan edukatif untuk anak-anak adalah puzzle. Dengan mengamati serta menyusun gambar sesuai dengan contoh bentuk kerjasama di lingkungan tetangga, siswa akan lebih aktif dan imajinatif dalam pembelajaran. Selanjutnya menurut Modjiono (Krisiyanto : 2011), bahwa Penerapan kerja kelompok bertujuan : a) memupuk kemauan dan kemampuan kerja sama diantara peserta didik, b) meningkatkan keterlibatan sosio-emosional dan intelektual para peserta didik dalam proses belajar mengajar yang disediakannya dan c) meningkatkan perhatian terhadap proses dan hasil dari proses belajar mengajar secara seimbang. Dengan demikian perbaikan pembelajaran mata pelajaran IPS tentang Kerja sama di lingkungan tetangga berakhir pada siklus II.

BAB V

KESIMPULAN SARAN DAN TINDAK LANJUT

  1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil perbaikan yang telah dilaksanakan, penulis dapat menyimpulkan bahwa :

  1. Pembelajaran melalui kerja kelompok melalui media puzzle dapat meningkatkan hasil belajar siswa, dari rata-rata 50,97 menjadi 77,07.
  2. Pembelajaran melalui kerja kelompok melalui media puzzle dapat meningkatkan aktivitas siswa, dari siswa yang pasif menjadi aktif.
  1. Saran Dan Tindak Lanjut

Berdasarkan kesimpulan tersebut, maka penulis menyampaikan beberapa yang perlu disampaikan oleh seorang guru dalam mengelola proses pembelajaran sebagai berikut :

1 Bagi Sekolah :

a.Membuat kebijakan serta dukungan dalam pengembangan proses belajar

mengajar di sekolah.

b.Menyediakan   sarana dan prasarana yang   menunjang   proses   belajar

yang aktif di sekolah.

  1. Bagi Siswa :

a.Meningkatkan keaktifan pada proses pembelajaran

b.Meningkatkan pemahaman pada pelajaran bagi siswa sendiri.

3.Bagi Guru :

  1. Dapat mengetahui kelemahan dan kekurangan siswa dalam pembelajaran.
  2. Dapat memilih model pembelajaran yang sesuai dengan materi pelajaran.
  3. Hendaknya   menerapkan     metode     yang   tepat   dalam  pembelajaran
  4. Melibatkan   siswa   secara   aktif   dalam   proses   pembelajaran   dan

penggunaan alat peraga   yang   maksimal   yang   sesuai   dengan   materi

pembelajaran agar siswa lebih aktif dan kreatif.

Sehubungan dengan kesimpulan diatas maka penulis menyarankan dan tindak lanjut untuk dapat memanfaatkan dan pengembangan PTK sehingga guru-guru yang memiliki masalah dalam pembelajaran dapat menemukan solusi pemecahan masalah dengan tepat.

  1. Penggunaan metode ini berhasil bagi penulis, tetapi tidak menutup kemungkinan metode yang di gunakan ini tidak berhasil di sekolah lain.
  2. Diadakan pembimbingan khusus bagi guru yang memiliki siswa berkebutuhan khusus, agar tidak terjadi diskriminasi pendidikan.

Demikian laporan ini dibuat sebagai tindak lanjut dari kegiatan observasi pada pembelajaran IPS. Besar harapan penulis dengan adanya laporan ini dapat menambah wawasan khususnya bagi penulis dan umumnya bagi kita semua.

DAFTAR PUSTAKA

Asrofudin.(2010).Pengertian Metode Kerja Kelompok. Di unduh tanggal 21 Mei 2014 dari http://asrofudin.blogspot.com/2010/08/pengertian-metode-kerja-kelompok.html

Badan.(2014).Pengertian hasil belajar menurut para ahli. Di unduh 24 Mei 2014 dari   http://kumpulan-contoh-ptk.blogspot.com/2014/01/pengertian-hasil-belajar-menurut-para-ahli.html

Damanik. (2013). Pengertian Aktivitas Menurut Para Ahli. Di unduh tanggal 05 Juni 2014 dari http://sondix.blogspot.com/2013/08/pengertian-aktivitas-menurut-para-ahli.html

Eva, Niko A. (2013). Penggunaan media puzzle untuk meningkatkan hasil belajar IPSdengan tema keluarga pada siswa sekolah dasar. Jurnal penelitian pendidikan guru sekolah dasar, 1 (2), hal 9. Di unduh tanggal 24 Mei 2014 dari http://ejournal.unesa.ac.id/index.php/jurnal-penelitian-pgsd/article/view/2965/baca-artikel

Fathul. (2011). Media pembelajaran puzzle pada ke-Muhammadiyahan. Diunduh 23 Mei 2014 dari http://fathul-sdmuh-spj.blogspot.com/2011/06/media-pembelajaran-puzzle-pada.html

Fitriani.(2013). Pengertian Media Pembelajaran Menurut Para Ahli. Di unduh tanggal 03 Juni 2014 dari http://fitrianielektronika.blogspot.com/2013/04/pengertian-media-pembelajaran-menurut.html

Haryanto. (2012). Pengertian media Pembelajaran. Di unduh tanggal 03 Juni 2014 dari http://belajarpsikologi.com/pengertian-media-pembelajaran/

Krisiyanto.(2011). METODE BELAJAR: “Kerja Kelompok”. Di unduh 21 Mei 2014 dari http://krizi.wordpress.com/2011/09/13/metode-belajar-kerja-kelompok/

Kurniawan. (2013). Pengertian dan Definisi Metode, Penelitian dan Metode Penelitian. Di unduh tanggal 21 Mei 2014 dari   http://dedikurniawanstmikpringsewu.wordpress.com/2013/07/24/pengertian-dan-definisi-metode-penelitian-dan-metode-penelitian/

Kuswanto, Suharjanto.(2008). Ilmu Pengetahuan Sosial Untuk Sekolah Dasar /MI Kelas 2. Jakarta : Pusat perbukuan departemen pendidikan nasional

Lalabudiati.(2011).Pengertian IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial) Menurut Beberapa ahli. Di unduh tanggal 06 Juni 2014 dari http://lalabudianti.blogspot.com/2011/12/kajian-ips-pada-tingkat-sekolah-dasar.html

Lestari.(2011). Pengertian Penelitian Tindakan Kelas Menurut Para Ahli. Di unduh tanggal 24 Mei 2014 dari http://www.belajar-bareng.com/2011/11/pengertian-penelitian-tindakan-kelas.html

Pratama.(2013).Pengertian kerjasama. Di unduh tanggal 07 Juni 2014 dari http://lompoulu.blogspot.com/2013/06/pengertian-kerjasama.html

Rina. (2013). Pengertian dan Metodologi Penelitian. Di unduh tanggal 21 Mei 2014 dari http://rinawssuriyani.blogspot.com/2013/04/pengertian-metode-dan-metodologi.html

Sardjiyo, Didih Sugandi & Ischak.(2009). Pendidikan IPS di SD. Jakarta: Pusat Penerbit Universitas Terbuka

Sukmawati.(2013). Metode Kerja Kelompok. Di unduh tanggal 21 Mei 2014 dari http://bqsukmawati.wordpress.com/2013/06/23/metode-kerja-kelompok/

Syuja. (2013). Artikel Ilmiah Inovasi Pembelajaran IPS di SD. Di unduh 22 Mei 2014 dari http://pgsd4c.wordpress.com/2013/06/18/firda-rabbani-syuja/

Syukron. (2011). Upaya Penggunaan Media Games Puzzle untuk Meningkatkan Pemahaman Siswa. Di unduh 21 Mei 2014 dari http://syukronsahara.blogspot.com/2011/05/penggunaan-media-games-puzzle.html

Ummah. (2011). Perspektif IPS Menurut Beberapa Ahli. Di unduh 21 Mei 2014 dari http://ummah-ipsku.blogspot.com/

Wahzunita. (2011). 5 Karakteristik IPS SD Menurut Ahli. Di unduh 21 Mei 2014 dari http://wahzunita.blogspot.com/2011/12/5-karakteristik-ips-sd-menurut-ahli.html

Wardhani, IGAK & Kuswaya Wihardit.(2012). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Penerbit Universitas Terbuka

Winataputra, Udin S, dkk.(2008). Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Pusat Penerbit Universitas Terbuka

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s