Bunga Sang Mantan


1486666_10202237968488065_802878663_n “Sebaiknya kita PUTUS” Ujarnya terakhir kali

“Apa? Kenapa? Kamu sudah punya cewek lain?”Tanyaku pada Aldi, mantan pacarku itu

“Kamu tahu sendirikan, aku ada di Bandung dan kamu di Malang. Aku nggak mau long distance” Jawabnya

“Apa? cuma itu? Tapi kan kita sudah pacaran lama”

“Ra, aku takut. Aku takut jika suatu saat nanti aku berpaling darimu di saat kita masih menjalin hubungan. Aku nggak mau kamu jadi terluka parah”

“kamu pikir dengan kejadian ini aku nggak terluka?Kamu beneran nggak cinta aku sekarang?”

“Ra, jujur aku sayang sama kamu. Tapi bisa kan kalau hari ini kita berteman saja. Kita fokus dengan pendidikan kita, sampai kita telah menjadi seseorang. sampai kita menggapai mimpi kita”

“Maksud kamu apa? aku nggak paham” Mataku mulai berkaca-kaca

“Jika kita benar-benar jodoh, kita akan bertemu lagi dan kelak kita akan bersama kembali. Kamu pahamkan?”

“Ya sudah terserah kamu, jika kamu mau putus, ya sudah kita putus beneran” Ujarku kemudian pergi meninggalnya

Empat tahun telah berlalu, dan aku tak lagi pernah bertemu dengan Aldi sejak itu.  Dan kini aku telah lulus kuliah dan telah bekerja di dinas pertanian sebagai penyuluh sesuai dengan impianku.

Pagi ini aku terbangun dari tidurku setelah mencium bau harum dari luar kamarku. Sebuah mawar merah muda sedang bermekaran di samping kamarku. Kebetulan aku kamarku berada di lantai bawah.

“Sejak kapan bunga itu ada ya” Pikirku lama

Kulihat mama sedang menyiram tanaman ditaman samping kamarku. Dengan segera aku menuju taman.

“Pagi ma” sapaku sambil mencium pipi mama

“Tumben kamu bangun pagi di hari libur? Biasanya kamu bangun siang setelah sholat subuh”

“Pengen aja ma, memangnya nggak boleh Aira bangun pagi”

“Bolehlah, mala mama senang liatnya. Apalagi sekarang kamu kembali ke rumah. Dulukan kamu ngekos, mama jadi kesepian”

“Hmmm ma, sini Aira bantu menyiram bunganya”

“Boleh, nih”

“Oh ya ma, ini mawar kapan belinya. Wangi banget lo ma sampai ke kamar. Aira boleh petik dan taruh di kamar?”

“Boleh, itu ada guntingnya. Mama senang kamu suka dengan mawar ini”

“Maksudnya?”Tanyaku sambil menggunting bunga mawar tersebut

“Dulu ingat nggak, waktu kamu pulang sambil menangis. Terus kamu buang pot yang berisi mawar ke tong sampah. Nah, mama mau tanya sekarang, mawar ini kamu dapat dari mana?”

“Aldi” Ujarku dalam hati

“Ingat nggak? dulu saja di buang sekarang senang minta ampun dengan mawar ini. Kamu juga kalau pulang liburan kuliah sudah nggak mau lagi membantu mama untuk berkebun lagi. Pulang ke rumah paling tidur atau kalau nggak kamu pergi jalan-jalan dengan teman -teman kamu itu. Makanya kamu nggak pernah liat bunga ini”

Aku terdiam sambil memberi bunga mawar yang sudah aku petik tadi ke mama

“Eh, kenapa di kasih ke mama, bukannya kamu mau taruh di kamar?”

” Nggak jadi ma, taruh di kamar mama saja”

” Nggak bisa dong, kamu kan tadi yang petik jadi kamu yang harus tanggung jawab dong”Jawab mama sambil menyerahkan mawar itu ke tanganku kemudian pergi

“Mantan, bunga ini dari mantanku dulu” Gumamku lirih

Akupun teringat kembali ke masa SMA dulu dimana kita masih bersama.

“Happy anniversary sayang…” Ucapku sambil membawa cup cake yang di atasnya terdapat lilin kecil

“Wahhh nggak kerasa ya kita sudah pacaran 3 tahun lamanya. Harus semangat nih bentar lagi mau ujian”

“Kok malah membahas ujian sih?

“Ya nggak apa-apa dong, kan cuma mau ngingetin. Jangan karena kita keasyikan pacaran kita jadi lupa untuk fokus belajar. Memangnya kamu mau tidak lulus sekolah?”

“Ahhh nggak mau, akukan juga harus kuliah”

“Maka dari itu, kita harus belajar. trus kuliah sesuai dengan apa yang kita cita-citakan”

“Iya paham, trus hadiah buat aku mana?”

“tarrraaaaaa” Ujar Aldi sambil menunujukkan tanaman mawar yang belum berbunga lengkap dengan pot yang telah dihias pita bewarna merah muda.

“Mawar?”

“Iya”

“Kenapa tanaman mawar? bukan bunga mawarnya saja?”Tanyaku penasaran

“Sayang, kalau aku kasih kamu bunganya langsung paling juga bertahan seminggu. Tapi kalau aku beri kamu tanamannya langsung, kamu bisa melihat bunganya berkali-kali. Semakin sering berbunga berarti cinta kamu kepadaku semakin besar. Kamu juga akan selalu ingat padaku”

“Ya ampunnnn kamu romantis banget, tapi warna mawarnya apa nih?”

“Itu dia, sengaja aku beli yang belum berbunga, biar kamu bersabar dan mau merawatnya dengan baik sampai dia berbunga”

“Baiklah, pasti akan berbunga kalo aku yang merawatnya”

Dulu, aku belum sempat melihat tanaman ini berbunga, malah putus. Dan sekarang untuk pertama kalinya aku melihatnya.

“Apa kabar dia ya…”Gumamku lirih

Keesokkan harinya, aku berangkat kerja seperti biasanya. Hanya saja hari ini ada penyuluhan ke desa bersama dinas peternakan.

“Pagi!”Sapa ku pada teman-teman kantor

“Pagi, eh ra nanti kamu pergi bersama pergawai baru, soalnya pak Rahman di pindahkan ke daerah lain”Ujar Dina, teman sekantorku

“Oh, begitu.Mendadak sekali pindahnya,, tapi  ya nggak masalah sih. Trus pengganti pak Rahman mana  sekarang?”

“Belum datang, eh nanti kamu jangan sampai naksir ya sama dia”Bisik Dina

“Kenapa begitu?”

“Soalnya dia masih muda seperti kamu, dia katanya juga ganteng pula”Bisiknya sekali lagi

“Aduh,, profesional aja deh mbak. Tapi kalau mbak Dina mau, ambil deh”

“Ya kalau mbak belum merried sih sudah mbak embat hehehe. Eh itu dia orangnya”Ujar mbak Dina

Akupun menoleh kearah belakang

“Aldi?” Ujarku lirih dengan terkejut

Ah mungkin mataku mulai nggak beres, atau karena efek bunga mawar kemarin?

“Oh ya, Aldi kenalkan ini Aira yang nanti ikut bersama kamu penyuluhan di desa Sumber Asri”Ujar Dina yang memperkenalkan aku

“Hai, Aira” sapaku

“Lama ya tak berjumpa”Ujar Aldi

skak mat

“Kalian saling kenal?”Tanya Dina

“Iya, tapi sepertinya Aira yang lupa denganku”Jawab Aldi dengan seulas senyum yang lama ku lihat

“Ra, kamu nggak lupa kan?” Tanya Dina sekali lagi

” Sedikit, ya nggak banyak-banyak amatlah. Ok senang bertemu sekali lagi” Jawabku sambil mengulurkan tangan

“Ya, senang bertemu sekali lagi. Mohon kerja samanya”Jawab Aldi

Apa yang terjadi jika harus kerja bareng dengan mantan dan belum bisa move on darinya? ya Tuhan apa yang harus aku perbuat?

“Eh, aku berangkat sendiri saja dengan mobilku”Ujarku pada Aldi

“Tapi jauh lebih efisien dan hemat jika semobil bersama. Jarak dan tujuan sama, jadi kenapa harus pakai mobil sendiri. Bukannya kamu dulu kamu penggerak lingkungan?”

Aku menghela nafas

“Ya sudah, aku ikut dengan kamu”

Dengan terpaksa akupun satu mobil dengannya. Canggung, seneng, speechless, bingung, semua jadi satu sehingga aku hanya terdiam di dalam mobilnya.

“Kenapa dari tadi diam? Mobilnya kurang nyaman ya?”

“Nggak apa-apa”

“Ah yang bener, dulu kamu suka sekali bicara. Sampai-sampai aku kewalahan menghadapi kamu dulu”

“Maksudnya? Aku cerewet gitukan?”

“Bukan-bukan begitu maksudku. Dulu kamukan orangnya ceria, kenapa jadi pendiam sekarang?”

“Dulu? itu sudah berapa tahun menurut kamu?Ah sudahlah aku nggak mau berdebat sama kamu”

“Kamu masih marah soal waktu itu?”

“Untuk apa marah? itu juga sudah lama bukan?”

“Ok ok, aku nggak akan merusak mood kamu lagi. Untuk hari ini kita harus profesional ke tempat kerja kita”

“Ok”

Berawal dari melihat  bunga pemberian sang mantan mekar berujung bertemu dengan mantan. hmmm… Itu belum seberapa, masih ada lagi yang lainnya.

“Pagi, kenalkan ini anak Bapak namanya Santi”Ujar Pak Lurah pada kami berdua

“Santi?Kamu tinggal di sini sekarang?”Ujarku padanya

“Loh? Aira kan? Eh… ini Aldikan? Kalian kok barengan? atau kalian balikan ya sekarang ?Ya ampun kalian jadi orang sukses ya”

“Eehemm” aku batuk dengan sengaja

“Lo Santi kamu kenal dengan mereka?”

“Iyalah pak, kan dulu sekolah d tempatnya budhe, jadi Bapak nggak tahu mereka. Mereka ini teman SMA Santy pak”

“Oh ya, wah kalau begitu nanti kalau ada perlu apa-apa bisa gampang dong menghubunginya”

Kulihat Aldi hanya senyum-senyum sendiri, apa coba yang sedang di pikirkannya sampai tersenyum begitu.

Mimpi apa coba hari ini, bertemu dengan mantan sekaligus teman SMA yang selalu mengingatkan kejadian dengan mantan kekasih.

Hari ini penyuluhan berjalan dengan lancar,, dan besok penyuluhan itu masih ada lagi. Dan saat-saat pulang itulah saat yang membuat aku canggung dengannya.Aku hanya diam…

“Santy lucu ya, dia masih sama seperti dulu” Ujar Aldi

Aku cuma nyengir mendengarnya.

“Eh kamu langsung aku antar pulang saja ya, sudah malam kan?”Ujarnya lagi

“Nggak perlu, kamu antar ke kantor saja, sekalian ambil mobil disana”Jawabku

“Sudah malam begini,, kamu nggak takut? Sudah langsung ke rumah saja, lagipula mobil kamu pasti di jaga sama pak satpamnya”

“Tapikan…?”

“Sudah nggak apa-apa”

Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan. Rupanya aku tak mampu melupakannya hingga kini.

“Rumah kamu lewat gang ini kan?”

“Iya”

“Ternyata aku masih hafal juga hehe”

Mobilnyapun langsung masuk ke gang arah rumahku berada dan berhenti di sebuah rumah yang ada banyak tanamannya di halamannya.

“Lama juga aku tidak main kesini, rumah kamu jadi lebih asri dari yang dulu. Kapan-kapan aku boleh mampir ya”

Aku hanya mengangguk pelan.

“Ra, kamu sakit? Dari tadi kamu diam terus”

“Terima kasih ya sudah mau mengantarku sampai di rumah, sampai jumpa besok lagi. Maaf ini sudah malam, kapan-kapan kamu boleh mampir kok. Bye”Jawabku kemudian keluar dari mobilnya

“Bye, Eh ra, mawarnya cantik ya” Ujar Aldi sambil menunjuk mawar yang ada di halaman rumah

“Mawar? Itukan mawar dari dia dulu” Gumamku dalam hati

“Hehehe iya, hati-hati dijalan ya” Jawabku kemudian membuka pintu pagar rumah

Saat mobil Aldi telah meninggalkan depan rumah, aku hanya memandangi mawar yang Aldi tunjuk dulu.

“Mawar, kenapa kamu mekar sekarang sih, dia jadi lihat kamukan? Aku jadi seperti orang bego nggak tahu harus berbuat apa?” Kataku yang bicara dengan bunga mawar

“Aira, kamu bicara dengan siapa sayang?”Tanya Mama

“Eh,, enggak ma, ini bross Aira jatuh, tapi sudah ketemu kok”

“Oh, ya sudah cepat masuk, sudah malam ini. Tapi mobil kamu mana?”

“Eh,, ada di kantor ma, tadi waktu pergi penyuluhan. Biar efisien jadi pake mobil temen dan mobil Aira tinggal dikantor”

“Kirain mama ada apa-apa dengan mobil kamu. Ya sudah kamu cepat mandi sana, setelah itu kita makan”

“Mama belum makan?”

“Mamakan menunggu kamu, buruan mama lapar”

“Iya ma”

Keeseokkan harinya, saat aku mau berangkat kerja aku masih sempat-sempatnya melirik si mawar sambil ngomel nggak jelas.

“Mawar, kenapa kamu nggak layu-layu sih? cintakukan sudah layu”Ujarku sendiri

Tiba-tiba aku dikejutkan bunyi klakson mobil depan rumah

“Ya ampun”

“Pagi ra”Sapa Aldi

“Pagi, kamu kok ada disini?”

“Aku mau jempu kamulah, mobil kamukan ada di kantor. Jadi aku jemput saja”

“Siapa ra didepan”Ujar mama dari dalam rumah “Temen ma, Aira berangkat dulu ya”

“Sudah-sudah ayo berangkat”

“Lo akukan belum ngucapin salam sama mama kamu”

“Salamnya nanti saja, ayo buruan berangkat nanti telat”

“I.. iya”

Aku nggak mau mama sampai bertemu Aldi. Aku nggak tahu apa yang akan Aldi bicarakan dengan mama, Apalagi kalau dia tanya tentang mawar yang mekar itu.

“Kamu lagi mikirin apa sih?”Tanya Aldi

“Eh.. enggak, nggak ada”

“Yang bener…”

“Udah fokus aja menyetirnya, nanti ada apa-apa lagi”

“Iyaya”

Sesampainya di kantor,

“Pagi semua”

“Cieee,, barengan nih… “Goda mbak Dina

“Apaan sih mbak Dina ini, cuma kebetulan aja Aldi liat Aira di jalan, jadi di ajak bareng”Jawabku ngeles

“Sama aja itu cyiin”

“Ahhh ya udahlah terserah mbak Dina aja gimana”

“Pagiiii semuaaaa…..” Sapa Kia, teman sekantor yang seumuran denganku tapi tingkahnya rada seperti anak kecil

“Pagi, sudah sehat Kia?”Tanya Mbak Dina

“Sudah dong,, Nggak liat apa Kia segar bugar seperti ini”

“Hehehe iya, kamu jangan sakit lagi ya, kantor jadi sepi”

“Iya. Eh pagi-pagi ada cwok ganteng. Kenalin aku Zakiyah, tapi bukan Zakiyah yang ada di lagu-lagu itu ya,, hehehe panggil saja Kia. Ok” Sapa Kia dengan senangnya sambil mengulurkan tangannya pada Aldi

“Aldi”Jawab Aldi yang menyambut uluran tangan Kia

“Ehh… Kalian.. Pacaran atau gimana nih ?”

“Em em em ” Pura-puraku batuk kecil

“Eh,, enggak, kita cuma pernah satu sekolah saja”Jawab Aldi

“Singlekan?”Tanya Kia lagi

“Ya ampun Kia, nggak perlu sampai detail gitu juga kali”Ujar Mbak Dita

Aku hanya manyun melihatnya, tapi sekaligus penasaran status Aldi sekarang apa.

“Hehehe iya nggak apa-apa kok mbak, saya senang punya teman to the point sekaligus blak-blakan seperti ini”

“Tuh kan,, Mbak Dina ini yang rumit, Aldinya saja nggak papa kok. Jadi?”

“Hmmm…. menurut kamu aku single bukan?”

“Ya aku berharap kamu JONES. hehehe”

“Ya ampun Kia,,, “

“Ya nggak apa-apa dong Ra, kan kalo dia Jomblo aku mau pedekate sama dia”

“Hahaha,, ya ya boleh,,, lagi JONES pula”Jawab Aldi

“Yes, jadi kalo aku dekat sama kamu nggak akan ada yang marahkan?”

“Ya,, kalau aku nggak apa-apa tapi entah yang lain”Jawab Aldi sambil melirikku sebentar

“Ah udahlah, kerja kerja. Ngobrol terusss…”Jawabku sambil berlalu

“Kenapa dia?”

“Ah bodoh amat, yang penting kamu single. hehehe”

“Kamu lucu ya”

Sejak pertemuan antara Aldi dan Kia berlangsung, Kia tak henti-hentinya bertanya tentang Aldi. Mulai dari makanan favoritnya, warna yang disukai, hobby semua tentang Aldi.

“Ya ampun Kia, kitakan cuma teman satu sekolah. Bukan sekelas”

“Biar cuma satu sekolah, paling nggak info sekecil apapun masih berguna lo”

Aku menghela nafasku

” Kia,, maaf ya aku mau pegi buat ke penyuluhan dulu. Lain kali kita ngobrol bareng OK!”

Akupun menuju mobilku, untuk segera pergi menuju desa Santy berada.

“Aira, kita satu mobil lagi yuk!” Ajak Aldi sekali lagi

“Hmmm… kali ini aku bawa mobil sendiri saja deh,, soalnya semalem mama tanya mobilku. Nggak apa-apakan? atau kamu mau nebeng juga?”

“Ide bagus, nanti kalau kamu capek biar aku yang nyetir mobilnya. Ayo!”

aduhhh,, kesalahan kanapa tadi mengajak dia ikut satu mobil denganku? Gumamku dalam hati.

Entah Aldi sudah move on dariku atau memang dia mudah bersosialisasi dengan orang sekalipun mantan atau bagaimana, dengan mudahnya dia berbasa-basi denganku.

“Oh ya, kemarin aku di hubungi teman-teman SMA, katanya mau ada reunian. Kamu datang?”

“Reuni? belum ada kabar, baru tahu dari kamu”

“Katanya reuniannya bebas bawa pasangan, aku mau pasangan sama siapa kesana?”

“Ajak saja Kia, pasti dia seneng”

“Kalo kamu mau ajak siapa?”

“Aku? entahlah,, reuniannya saja kapan nggak tahu, jadi lihat nanti saja”

“Tapi pasangan ada kan?”

“Ada,, ada dong, masak nggak ada”

“Oh ya, siapa? sekali-kali kenalin dong, bolehkan kita makan-makan sama-sama. Biar lebih akrab”

“Boleh, nggak masalah. Kamu sendiri pacarnya mana? Apa masih cari calon?”

“Iya, masih cari calon, baru putus juga 3 bulan yang lalu. Tapi sekarang maunya langsung nikah saja”

Aku terdiam

“Calonnya sudah ketemu?”

“Sudah, malah udah deket sama dia”

“Tunggu-tunggu, kalo boleh tau pisahnya kenapa sama mantan dulu? trus kenapa dengan mudahnya langsung ketemu calon istri dan mau di ajak nikah? perasaan kamu terbuat dari apa Al?” Aku mulai sewot

“Mantan pacarku selingkuh dan dia hamil dengan selingkuhannya, lalu buat apa aku mengingat dia terus? jadi aku mau lupain dia dan apa salahnya kalau aku menikah dengan orang yang baru?pekerjaan juga aku sudah tetap, gaji bisa di bilang cukup, umur juga sudah pantas, jadi apalagi yang kurang?”

“hmm kalau seperti itu aku nggak tahu harus berbuat apa, tapi masak secepat itu menemukan calon istri? trus si cewek gimana? dia sudah siap juga?”

“Hei hei, santai.. masih penjajakan juga, tapi sepertinya dia belum sadar dengan keberadaanku. Tapi ya sudahlah, di coba dulu”

“Syukurlah kalau begitu. Tapi kamu bukan mau balas dendam atas ulah cewek kamu sebulumnyakan?”

Aldi tertawa

“ya enggaklah,, kurang kerjaan sekali aku. Kalo ada kebaikan kenapa mesti mencari keburukan ?Sejujurnya aku sudah memaafkannya, bahkan sempat menengok bayinya saat lahir”

Aku terdiam sejenak

sejak kapan pemikiran dia jadi dewasa sekali? Apa karena aku terlalu lama bertingkah kekanak-kanakan, pikirku dalam hati.

Menyesal aku sering ngePHPin lelaki. Cuma mau memanfaatkan mereka saja dulu. Jadi penasaran dengan calon istrinya Aldi seperti apa. Beruntung sekali dia terpilih jadi bagian hidup Aldi. Tapi apa mungkin Aldi tak pernah terkenang dengan kenangan manis saat masih SMA dulu denganku. Tuhan, aku tak bisa melupakannya..

Sore ini aku melewati pematang sawah bersama Santy sambil menghabiskan waktu senja berdua saja.

“San”Panggilku

“Apa?”Tanya santy

“Kamu kapan nikah?”

“Kenapa tanya seperti itu? “

“Oh enggak, enggak kenapa-napa”

“Terus? kamu tahu dari Bapak ya kalau aku mau nikah?”

“Ha? Jadi kamu?”

“Iya, 3 bulan lagi aku mau nikah”

“Tapikan kita masih berumur 22 tahun?”

“Ih… kamu teman kamu sedang berbahagia bukannya bilang Alhamdulillah semoga aku ikut menyusul, malah tanya seperti itu?”

“Eh iya Alhamdulillah. Maaf lupa”

“Memang kenapa kalau masih berumur 22 tahun? Selama kedua pihak sudah siap dan saling mencintai, kenapa tidak?”

Kenapa pemikiran Santy sama dengan pemikiran Aldi ya?Jangan-jangan?

“Kalau boleh tau siapa calon suami kamu san?”

“Hmmm… malu ah, nanti kamu juga tahu sendiri”

“Siapa?Aku kenal dengan dia?”

Santy mengangguk pelan

“Teman SMA?”

“Udah ah malu,, Lagian kamu juga sudah kenal dia. SUdah, ayo buruan ke rumah kita makan”

“Hei,, santy, jangan buat aku penasaran dong!”

“Kalo sudah dekat hari H nya saja”

aH,, nggak mungkin sama Aldi. Kita baru bertemu 2 hari, mana mungkin sama dia. Akupun mulai berfikiran aneh-aneh tentang mereka berdua.

Malam ini Aldi yang menyetir lagi, padahal tadi dia bilang mau bergantian menyetir mobilnya.

“Kenapa dari tadi diam? ada yang kamu pikirkan?”Tanya Aldi

“Eh,, enggak, cuma ngantuk saja”

“Ya sudah tidur saja, biar aku yang fokus nyetirnya”

“Nanti kamu nggak ada temen ngobrol gimana?Trus jadi ikutan ngantuk”

“Ngobrol juga percuma, kamu ngantukkan? Nanti kalo aku ngantuk, aku minta kamu yang nyetir ok”

Aku mengangguk pelan. Berlahan akupun mulai tertidur hingga akhirnya Aldi membangunkanku.

“Kamu ngantuk ya, ya sudah biar aku nyetir dulu”

“Sudah mau sampai kok, aku turun di halte dekat rumah kamu”

“Trus kamu?”

“Aku naik bis”

“Biar aku antar”

“Nggak usah, nggak efisien. lagian nanti kamu malah balik lagi, sudah kamu kuatin buat melek”

“Iya”

Aldipun menghentikan mobil dan mulai turun dari mobil.

“Aku tunggu ya”

“Sudah kamu pulang saja, nanti lanjut tidur lagi”

“Enggak ah,, takut kalo kamu nggak dapat bis  lagi seperti dulu”

Suasana jadi hening, dan terasa canggung. Gimana tidak, gara-gara ucapanku tadi membuatku flashback ke masa SMA dulu.

waktu itu Aldi dari rumah, pulang kemalaman akibat ketiduran usai mengerjakan tugas sekolah. Dan saat pulang dia tidak menemukan bis menuju rumahnya, alhasil dia tidur di halte bis sampai pagi.

Suasana masih hening..

“Tenang saja, nggak mungkin aku tidur lagi di halte seperti dulu hahaha” Aldi tertawa

“Itu nggak lucu Al”Jawabku sambil memalingkan muka

“hehehe, iya sih,, Dulu aku bodoh banget ya, padahal bisa pinjam telpon rumah kamu minta jemput orang di rumah. Malah tidur di halte”

“Iya”

“Sudah kamu tenang saja, kalau nanti nggak ada bis lewat, aku bisa telpon taxi. Kamu pulang saja dulu”

“Tapi…”

Bis datang menghampiri

“itu bisnya, aku pulang dulu ya. kamu hati-hati, jangan sampai ngantuk. Dahh” Ujar Aldi sambil masuk ke dalam bis

“Dah…”

Kamu hati-hati juga,,, Gumamku lirih

Sesampai di rumah aku masih melihat mawar itu. Tapi aku langsung masuk ke dalam tanpa berkata apa-apa.

“Pulangnya malam sekali sayang”

“Iya ma, tadi masih di suruh makan juga sama bapaknya Santy. Jadi pulang usai sholat maghrib. Makanya Aira sms Mama takut mama nunggu Aira pulang”

“Kamu pasti capek, kamu mau mandi air hangat ?”

“Enggak deh ma, tadi sebelum pulang Aira juga sudah mandi. Aira mau sholat dulu baru bobok. Have nice a dream mama”UJarku sambil mencium pipi mama

“Ya sudah mama tidur dulu ya”

Malam ini aku masih belum bisa tidur, masih terbanyang kata-kata Aldi tadi. Ku buka jendela samping rumah sambil melihat mawar yang masih mekar itu. Ya, harus aku akui kalo aku masih belum bisa melupakannya. Dan rasa itu masih ada….

Keesokkan harinya…

“Hari ini hari ulang tahun Aldi, kita mau di traktir sama dia teman-teman” Ujar Kia

“Apa?” Ujarku lirih

Terlalu mengenang masa lalu, sampai-sampai aku lupa hari ini hari ulang tahunnya.

“Heii diam saja nih, merasa bersalah ya sampai nggak ingat ulang tahunnya?” Ujar Kia

“ha?? namanya juga teman bukan sahabatkan? Selamat ya Al” Ujarku sambil mengulurkan tanganku

“Iya, nanti ikut makan-makan ya, kalau perlu ajak dia”

Aku tersenyum

“iya”

Mau ajak siapa aku ? haruskah aku mengajak Roni? cowok yang sempat mengejar-ngejarku dulu. Tapi kabarnya dia sudah punya cewek. Atau harus aku akui aku seorang jomblo yang belum move on dari dia selama bertahun-tahun.

Sore ini teman-teman kantor sedang berkumpul makan-makan bersama untuk merayakan ulang tahun Aldi. Ya suasananya memang riang gembira, terutama Kia yang berusaha dekat dengan Aldi dan dia tak menolaknya. Jealous

Tapi tiba-tiba magku kambuh

“Ra, kamu diam saja sih ayo dong di makan”

“Iya nih, sepertinya magku sedang kumat lagi. Jadi aku makan sedikit saja”

“Apa perlu kamu aku antar pulang sekarang?”

“Ngapain? inikan pesta ulang tahun kamu, aku diam saja di sini lihat kalian cerita” Jawabku lemas

Tapi sepertinya magku semakin parah, obat juga lupa di bawa.

“semuanya aku pulang saja dulu ya. Kalian lanjutkan pestanya”Ujarku sambil memegang perut

“Biar aku antar”Pinta Aldi

“Nggak perlu aku sudah di jemput kok”

“Sama siapa? Dia?”Tanya Aldi

aku menggangguk pelan

Tanpa sengaja saat aku baru pergi bertemu dengan Roni.

“Aira”

“Roni”

“sendiri saja?”

“Enggak, tadinya sama teman-teman kantor, itu mereka. Tapi aku mau pulang, magku kambuh. Jadi aku pulang daripada mengganggu pesta ulang tahun temanku” Ujarku sambil menunjuk tempat Aldi berada

“Ya sudah aku antar pulang ya”

“Nggak ngerepotin nih”

“Enggak, daripada nanti terjadi sesuatu dengan kamu”

Saat dalam mobil Roni mulai bertanya tentang Aldi

“Cowok yang melihat ke arah kita sepertinya aku kenal, tapi di mana ya?”

“Aldi”

“Apa? Aldi? mantan pacar kamu waktu SMA dulu?”

“Iya”

“Sekarang sekantor sama dia?”

“Iya”

“Lalu, perasaan kamu ke dia gimana?”

“Entahlah, aku juga bingung. Mau seneng apa sedih ya. Dia juga mau nikah”

“Apa?”

“Iya, dia pernah cerita kalau dia mau nikah sama calon istrinya. Hmm… sepertinya aku harus benar-benar move on dari dia. Kamu sendiri gimana? katanya sudah punya cewek, mau nikah juga?”

“HEHEHE, kamu sudah tahu ya?”

“Selamat ya, sekali-kali kamu kenalin dengan cewek kamu. Bagaimanapun juga dulu kita kan  sahabatan waktu kuliah?”

“Oke, kapan-kapan kita ketemuan bareng ya”

“Siap”

“Eh mag kamu gimana?”

“Udah nggak apa-apa. Mendingan kok”

Malam ini aku langsung tidur usai meminum obat penahan rasa sakit. Aku memiliki sakit mag semenjak putus dari Aldi. Ya, setelah putus dari Aldi nafsu makanku menjadi menurun hingga aku sempat di opname karena sakit.

Pagi Harinya, samar-samar aku mendengar suara yang tak asing lagi terdengar dari samping jendela sedang ngobrol dengan mama.

“Iya, semalam magnya kambuh, jadi langsung tidur. Tadi juga bangun buat sholat trus tidur lagi”

“Sepertinya dulu dia tidak punya mag tante, apalagi tante selalu mengingatkan untuk makan”

“Iya, semenjak libur kuliah dulu dia tiba-tiba nangis sambil membuang…”

“Mama” Panggilku sambil membuka jendela

“Aira?Kamu mengagetkan mama saja”

Aku tersenum kecut

“Pagi ra, gimana keadaan kamu? mendingan?”Tanya Aldi

“Eh,, masih sakit tapi jauh lebih baik dari semalam. Kenapa kamu pagi-pagi sudah ada di ruah?”

“Mau kasih ini ” Jawab Aldi sambil menunjukkan sebuah bungkusan dalam plastik

“Bentar ya, aku ke sana”

Yang bener saja, mama hampir cerita kejadian pasca aku putus dengan Aldi sampai membuang tanaman bunga mawar darinya. Dan bunga mawar itu masih tetap hidup dengan segarnya dan penuh bunga yang masih kuncup-kuncup.

“Sebaiknya Aldi disuruh masuk kedalam saja ma, masak tamu di suruh berdiri ma!”Ujarku dari dalam kamar

“Disini saja, lebih enak suasananya. Seger dan sejuk”

“Mampus aku”Gumamku lirih

“Aduh ma, perut Aira sakit lagi nih “Teriakku lirih sambil menjatuhkan barang di meja

“Aira”

Dengan segera Mama dan Aldi mendatangiku

“Kita ke dokter dulu gimana tante!”Ujar Aldi

“Enggak perlu, istirarahat di rumah saja. Besok pasti sembuh”Jawabku lirih

“Tapi kalau begini terus, nanti kenapa-napa lo ra”Ujar mama

“Ya sudah, kamu minum ini saja dulu. Ini obat yang di sarankan sama temenku kalo terkena mag. Kamu sudah makan kan?”

“Biar tante ambil bubur dulu sebentar”

Berdua?lagi?

Tuhan, apa yang harus aku lakukan. kejadian ini membuatku teringat akan kejadian dulu saat bersamanya..

“Obatnya nggak pahitkan?”

Aldi tertawa

“kamu ini masih sama saja seperti dulu, namanya obat pasti pahit. Kalo permen pasti manis”

“Kalo begitu, aku nggak mau minum ah. Aku mau tidur lagi” Jawabku sambil memalingkan muka darinya

“Aira, aira kapan kamu dewasanya. Kalau kamu nggak minum obat sama halnya kamu menyakiti diri sendiri. Yang sedih bukan hanya mama kamu, aku teman-teman termasuk badan kamu “

“Al, aku pengen sendiri”

“Mama kamu sudah sangat perhatian untuk merawat bunga-bunga di halaman, sampai-sampai view dari jendela sangat menyegarkan mata. Dari kamarpun bisa mencium wanginya mawar. Kamu sungguh beruntung”

MAWAR?

“Buburnya sudah siap, ayo di makan”Ujar mama

“Ma, Aira nggak mau makan”

“Ih kamu kenapa sih, sekarang jadi manja. Mama nggak mau kamu kenapa-napa. Karena cuma kamu yang mama punya sekarang. Papa kamu sudah lama pergi, dan adik kamu sedang kuliah dan jarang pulang. Kalau kamu sakit dan sampai kenapa-napa, mama yang sedih sayang”

Aku menangis, ya aku baru ingat kalau papa telah lama meninggalkan mama, dan memilih menikah dengan wanita lain. Sedangkan adikku Rangga juga kuliah di luar kota yang membuatnya jarang ada di rumah.

“Maafin Aira ma” Aku memeluk mama

Mama mengangguk pelan

“Aira janji nggak akan telat makan lagi, Aira akan makan bekal dari mama. Dan Aira nggak mau sakit lagi”

” Ya sudah kamu makan, lalu minum obat. Setelah itu istirahat ya”

“Iya”

“Sini tante biar Aldi yang suapi Aira” Ujar Aldi yang mengambil mangkok berisi bubur

Dengan malu-malu aku memakan bubur yang disuapi oleh Aldi

“Mama jadi keinget dulu waktu SMA, pas kamu lagi sakit Aldi yang nyuapi kamu makan. Mama jadi iri liatnya”

Sontak aku langsung tersedak mendengar hal itu

“Nggak usah gerogi begitu ah, Mamakan juga pernah muda sayang. Mama tinggal dulu deh, biar kamu bisa ngehabisin buburnya”

“Ma…..”

suasana menjadi aneh, gimana nggak aneh. Sekamar dengan mantan kekasih. dan pasca putus belum ada pengganti

“Kamu masih canggung, bukankah kita sudah lama berpisah”

“Enggak, aneh saja rasanya”

Aldi terdiam

“Bukannya kamu sudah ada wanita pilihan, apalagi hari ini hari libur, harusnya kamu ketemuan dengan wanita itu”

“kenapa? Cemburu?”tanya aldi

“Enggak, buat apa cemburu. Yang ada kalau ada orang lain liat, yang ada dia yang cemburu”

“Cowok kemarin?”

AKu mengangguk pelan

“katanya mau di kenalin sama aku, tapi mana?kemarin langsung pulang”

“Lalu wanita yang mau kamu jadikan istri di mana? kenapa nggak di kenalin juga ke aku kemarin”

“Ada, kemarin dia datangnya telat, jadi kamu nggak tahu dia”

“iya maaf,, aku seudah kenyang nih, sini obatnya”

“yakin mau minum obatnya?”

“Ya, daripada membuat mama sedih lagi”

“Ok, oh ya, bilangin sama tante dong aku mau minta tanaman mawar itu buat d tanam mama” Ujar Aldi sambil menunjuk mawar pemberiannya dulu

“Mawar?”

“Iya, mamakan suka mawar. jadi nggak apa-apakan minta tanamannya buat di stek. Selain itu mawarnya super, baunya sampai kamar kamu”

“Iya, kamu ambil saja. Nanti aku bilang mama”

Andai dia tahu jika itu mawar pemberiannya dulu…

Hari demi hari ku lihat Aldi semakin dekat dengan Kia. Dan yang hanya bisa aku lakukan adalah IKHLAS melihat mereka bahagia.

Dan hari reunian sekolah telah tiba, entahlah aku harus mengajak siapa untuk jadi pasangan. Mau nggak datang, aku juga rindu kumpul-kumpul bersama teman-teman. Mau datang, Aldi pasti menagih janji untuk mengenalkan pasanganku dengannya dan aku juga penasaran siapa calon pendamping Aldi.

“Kamu jadi datang ke reunian SMA ra?”Tanya Mama

“Iya ma, tapi Aira bingung”

“Bingung kenapa?”

“Aira mana ada pasangannya ma, Aira jadi merasa minder”

“Gitu aja repot, bilang saja kalo pasangan kamu sedang sibuk “

“Aira harus bohong gitu ya ma?”

“Ya, mau gimana lagi?”

“Kalau nanti mereka tanya-tanya kerjaan pasangan Aira apa gimana? Bohongnya jadi double lagi”

“Ya mau bagaimana lagi, atau kamu tidak usah datang saja. Bilang saja kalau kamu sedang sakit jadu nggak bisa hadir. Tapi kalau menurut mama lebih baik kamu jujur dengan keadaan kamu yang apa adanya”

“Hmm… ya sudahlah ma, Aira datang saja. Apa yang salah kalau Aira masih sendiri kan?”

“Nah gitu dong, itu baru anak mama”

Ya dan pada akhirnya aku datang sendiri menuju tempat reuni di sekolahku dulu.

“Aira, ya ampun kamu cantik sekali hari ini. Sampai aku nggak ngenali nih”Ujar Fira teman sekelasku

“hehehe, Fira kan? Ya ampun kamu juga makin cantik sayang”

“Eh kenalin, ini cowok aku. Namanya Hendra”

“Aira”

“Hendra. Sendiri saja?Mana pasangannya?”

“Eh iya, mana Aldi?”Tanya Fira

“He? Aldi? kita … kita sudah lama putus “

“What? Putus?Kenapa?Sejak kapan?”

“Sudah lama juga ya, udahlah nggak usah di inget-inget juga kan? Nggak baik ngingat masa lalu”

“Eh itu Aldi, sama siapa dia?”Ujar Fira sambil menunjukk ke belakangku

akupun menoleh ke arahnya, KIA.

“Aldi, sini”Ajak Fira

“Hei, Fir, apa kabar?”Sapa Aldi

“Baik, siapa dia?Gandengan baru ya. Ya ampun padahal menurutku kamu dan Aira itu pasangan yang paling serasi di sekolah dulu, ternyata nggak berjodoh”Ujar Fira tanpa ada rasa bersalah sedikitpun

“Apa? Pasangan?”Ujar Kia kaget

“Iya, tapi ya sudahlah. Kalian harus menatap masa depan bukan masa lalu, iya kan ra?”

Aku hanya mengangguk pelan

“Oh ya, kamu nggak ngenalin pacar kamu nih?”Tanya Fira lagi

“Oh iya, kenalin ini Kia, temen sekantor aku. Masih baru teman”Ujar Aldi

“Kia”

“Fira, eh ra, kamu nggak mau kenalan sama dia juga?”

“Hmm.. terus terang aku sudah kenal lama dengan Kia, bahkan lebih lama dari Aldi. Dia juga teman sekantor aku”

“Apa? Ya ampun kalian buat kejutan saja hari ini”

“Eh… Sorry, aku mau ke toilet dulu ya” Ujarku yang hendak kabur dari topik perMANTANan ini, tapi tak kusangka ku lihat Roni bersama Santy

“Roni, Santy?”

“Aira, kamu datang ke sini juga”Ujar Roni

“Jadi calon suami kamu Roni San? Ya ampun selamat ya”Ujarku sambil memeluk Santy

“Jadi kamu sudah tahu?”Tanya Roni

“Iya, tanpa sengaja Santy yang bilang”

“Jadi dia ini bukannya….?”Tanya Aldi penasaran

“Roni ini calon suami Santy. 3 bulan lagi mau merried katanya “Ujarku dengan seulas senyum

“Tapi denger-denger kamu juga mau merried ya Al?”Tanya Santy

“Kata siapa?”

“Tuh kata Aira, kamu pernah bilang sudah mau merried, sama siapa? Dia ya?”Tanya Santy sambil menunjuk keberadaan Kia

“Ah kamu ini, masih rahasia dong”

“Nggak seru nih”

“Hehehe,, oh ya Aldi, kita belum kenalan sebelumnyakan? Kenalin Roni”

“Aldi, tapi kenapa bisa tahu aku sebelumnya ya?”

“Adalah orang yang pernah cerita”

Aldi melirik ke arahku

“Jadi aku di bohongi nih?”Bisik Aldi

AKu tersenyum

“sepertinya begitu, entahlah aku juga bingung”Jawabku sambil berbisik juga

“Kalian berbisik apa?”Tanya Santy

“Hahaha,, nggak nyangka aja, Roni temen kuliahku mau nikah sama temen SMA aku? Dunia ini memang tak selebar daun kelorkan?”Jawabku dengan seulas senyum

“Lalu kamu sama siapa dong ?”Tanya Fira

“Hahaha,, menurut kamu?”

Tiba-tiba aku mendapat telfon dari Mama

“Iya ma”

“Gawat  Boy ketabrak mobil”

“Apa? Parah nggak ma?”Tanyaku mulai panik

“Ya Lumayan, ini mama langsung ke dokter”

“Ya sudah, Aira ke sana sekarang ya ma”

“Ada apa ra?”Tanya Aldi

“Maaf ya semua, aku harus liat Boy dulu”

“Boy? Boy siapa?”Tanya Santy

“Maaf ya, kapan-kapan aku jelaskan. Aku pergi dulu”Ujarku sambil pergi meninggalkan teman-teman SMAku

Hahaha, Thank’s boy. Kalau nggak ada kamu entah apa jadinya. Bisa-bisa terjebak masa lalu terus nih. Tapi bagaimanapun kasihan siBoy juga, kucing kesayanganku harus tertabrak mobil.

Nasib siBoy harus mengalami patah kaki dan dia hanya diam di kandangnya. Maaf ya Boy, kamu jadi terluka 😦

Keesokkan harinya,,

Mama dan aku berencana untuk pergi ke nusery untuk membeli beberapa bunga untuk di tanam di halaman. Tapi sebelumnya mama pergi ke tempat temannya dan aku pergi olahraga terlebih dahulu dan janjian di tempat toko langganan bunga mama.

“Lo Aira?”Panggil seseorang

“Eh tante, apa kabar?”Jawabku dengan seulas senyum

“Baik, Ya ampun kamu tambah cantik saja sekarang. Kamu juga gimana kabarnya?”

“Baik tante”

“Katanya kamu sakit ya beberapa hari yang lalu”

“Iya tante”

“Makanya jaga kesehatan, atur pola makan yang sehat”

“Tante ke sini sama siapa?”tanyaku panasaran dan nggak berharap ada Aldi bersamanya

“Sama Aldi, dia minta temenin nyari bunga buat ngelamar calon istrinya”

“Ha?”Aku terkejut

“kamu terkejutkan? apalagi tante. Masak sampai sekarang dia belum ngenalin ke tante calonnya dia siapa, tahu-tahu cuma bilang dia mau ngelamar seorang wanita saja”

Aku mencoba tersenyum di hadapan tante

“Oh ya, kamu sendiri gimana? sudah ada calonnya? Padahal tante itu berharap kamu yang jadi calon mantu tante. Apaan coba, tiba-tiba kalian putus tanpa alasan yang jelas”

“Hmm…  mungkin Aira belum berjodoh dengan Aldi”

“Ah,,, nggak mungkin, wajah kalian mirip kok. Tante yakin kalian berjodoh. Apa kamu sudah ada yang lain?”

“Ah? Aira… Aira masih sendiri kok tante” Jawabku lirih

“Bagus, mungkin kalian jodoh yang tertunda ya hahaha”Ujar Aldi sambil tertawa

Lagi-lagi terjebak masa lalu

“Hmm tante, Aira permisi dulu, mau telpon mama dulu sudah sampai di mana”

“Iya, tante tungguin. Aldi juga belum datang. Katanya tadi beli minuman tapi nggak balik-balik”

Akupun segera menelfon mama,,

“Ya, sayang”

“Mama ada di mana? Lama banget sih”

“Iya, ini sedang ada di jalan. sedang macet pula”

“Ya sudah, Aira pilih-pilih bunga duluan kalo begitu”

“Iya, maaf ya sayang”

“Da mama, hati-hati dijalan ya”

“Iya”

AKu menutup telponnya

“Gimana ra?”Tanya mama Aldi

“Masih di jalan tante, macet katanya”

“Ya sudah temani tante lihat-lihat bunga saja kalau begitu, daripada nganggur sendiriankan”

“Ya sudahlah, Aira temenin tante lihat-lihat bunga”

Tak lama kemudian Aldi datang sambil membawa minuman

“Lo, ra kamu disini juga? sama siapa?”Tanya Aldi

“Eh,,, tadinya mau ke sini sama mama, tapi mama masih ada di jalan”

“Oh, trus Boy gimana?”Tanya Aldi lagi yang terlihat penasaran

“Boy? cuma kakinya saja yang patah, jadi dia cuma tidur-tiduran saja kerjaannya sekarang”

“Boy? BOY itu siapa ra? tadi kamu bilang belum ada pasangan? Lalu Boy itu siapa?”

“Kucing Aira tante, hahaha… Aira kasih nama Boy, karena dia kucing cowok”

“Owwhh kirain cowok kamu sekarang”

“Ah tante, Aira sedang jomblo”

“Hmm giliran ke mama aja terus terang, lalu sama aku”Gumam Aldi lirih tapi masih terdengar di telingaku

“Kamu ini gimana sih Al, namanya juga cewek apalagi ngomong sama pacar, gengsi dong. Mama pasti juga begitu kalau di hadapkan sama kejadian seperti itu”Ujar Mama Aldi sambil memukul bahu Aldi

“Ow ow ow, kejadian apa nih tante? Aira nggak ngerti deh”

“Aira, tante pernah muda. Tante tahu dong apa yang kamu rasa saat bertemu mantan?”

Aku hanya tersenyum kecut.

Tuhan, akhir-akhir ini aku mimpi apa ya sampai tiap hari terjebak masa lalu terus.

“Jangan bilang begitu dong ma, kesannya Aldi mantan terburuk Aira”

“Kalo itu kamu tanya Aira sendiri dong, kamu mantan terburuk atau gimana?”

“Eh tante, sebaiknya Aira pergi dulu. Tante dan Aldi silahkan diskusi dulu. Permisi”

Akupun pergi meninggalkan mereka berdua.

“Loh ra, tungguin tante” Ujar Mama Aldi sambil menggaet tanganku

“Mama, nggak enak sama Aira”Kata Aldi sambil melepaskan tangan mamanya padaku

“Kenapa memangnya? Mama pokoknya lebih setuju kamu menikah dengan dia daripada sama cewek yang mama sendiri nggak tahu siapa?”

“Ma, kalo masalah itu kita omongin di rumah saja, jangan di sini nggak enak sama Aira”

Selagi mereka sedang berdiskusi, akupun pergi melihat-lihat bunga yang lainnya

Mataku tertuju pada jejeran bunga mawar yang berwarna-warni

“Ayo mbak di pilih, eh sepertinya nggak asing dengan wajah mbak ini”Ujar penjual  bunganya

“saya?”Tanyaku sambil menunjuk dengan jari telunjukku

“Iya, dulu yang suka ke sini sama pacarnyakan?”Tanya padaku sambil melihat-lihat orang disekitarku

“Pacar?”

Padahal masih bingung dengan apa yang penjual bunga nyatakan, ku dengar suara Aldi dari belakang.

“Ra”Panggil Aldi

“Nah, ini pacarnya. Mas ini yang dulu suka beliin mbaknya sewaktu sekolah. Kadang ke sini masih pakai seragam sekolah dulu. Saya masih ingat lo mbak? masak mbaknya nggak ingat. Ayo mas, di beliin mawarnya buat pacarnya”Ujar penjualnya lagi

Aku canggung plus bingung

“Eh ibu, kita sudah tidak pacaran lagi”Jelas Aldi

“oh lagi marahan? Sudah beliin mawarnya, biar ceweknya nggak marah lagi. Ayo di pilih, ada mawar batik, mawar holland. Mawarnya bagus-bagus lo”Kata penjualnya lagi sambil menunjukkan bunga-bunganya

“Kamu mau nggak di beliin mawar?” Bisik Aldi padaku

“Gratiskan?”Tanyaku sambil berbisik juga

“Iya, buruan. Keburu ada mama lagi nih”

“Ya sudah ibu saya beli mawar yang merah ini”

“Cuma 1? Nanggung mbak. Cuma 10 rb saja kok”

“Ya sudah ibu, saya beli lima mawar putih dan merah 2 dan yang pink 1. 50 rb kan?”Ujar Aldi

“Nah gitu dong, laris manis. Ibu doakan supaya cepet nikah”Ujar penjual bunga tersebut sambil memanjatkan do’a ke kita berdua

“Amiin” Jawab Aldi keras

Aku menyikut Aldi sambil melotot

“Kenapa? Kan doanya yang bagus”

Ibu-ibu penjual mawarpun langsung memasukkan tanaman mawar ke dalam kantong plastik warna merah.

“Ibu tambahi satu warna pink. Biar akur, dan langgeng terus”

foto0567

“Amiin”Jawab Aldi lagi

Aku tambah melotot ke arah Aldi, tapi Aldi malah tersenyum ke arahku sambil melet.

“Nih bawa” Ujar Aldi

“Kamu yang beli bawa saja sendiri”

“Tapikan itu buat kamu”

“Tapikan berat”

“Ya udah aku yang bawa. Lanjut jalan, nanti di tanya lagi kapan nikahnya lo sama ibu itu”

Akupun langsung pergi duluan

“Eh tungguin, berat nih”

Dan tiba-tiba, terdengar suara cewek yang tak asing di telingaku sedang memanggil Aldi

“ALDI…” Panggil cewek dari belakang

Akupun menoleh ke belakang, ya bisa di tebak itu adalah KIA.

“Eh ada Aira juga, kamu dengan siapa ke sini?”Tanya Kia padaku

“Tadinya sih ke sini sama mama, tapi mama masih di jalan. Kamu sedang cari bunga ya?”Jawabku

“Iya, buat acara lamaran” Bisik Kia padaku

“Oh ya, selamat ya… Aku seneng dengernya. Kalian juga serasi kok”Ujarku dengan seulas senyum untuk menutupi kesedihanku

tak lama kemudian ku dengar handphoneku berbunyi

“ya ma, Aira segera ke sana”Ujarku agar aku bisa terhindar dari situasi yang nggak mengenakkan ini

“Hmm… aku pergi dulu ya, mama nggak jadi ke sini. Kalian senang-senang ya” Ujarku

“Eh bunganya”Ujar Aldi

“Hmmm… buat Kia saja, Kia sukakan dengan mawar. Dah, aku pergi dulu”Ujarku kemudian pergi meninggalkan mereka berdua

Tuhan,, salahkah diriku jika aku masih sayang dia. Dan salahkah aku jika aku bilang padanya bahwa aku sangat mencintainya, haruskah aku merusak kebahagiaannya padahal dia mau bertunangan dengan temanku sendiri.

Ya sejak kejadian kemarin aku mulai menjaga jarak baik itu pada Kia maupun Aldi sendiri. Aku tak mau hatiku ini terlalu dalam terluka karenanya. Hingga Akhirnya Aldi memberiku sebuah bingkisan padaku

“Apa ini?”Tanyaku pada Aldi heran

“Kado buat kamu”Jawab Aldi

“Tapikan aku nggak ulang tahun”

“Iya juga sih,, Hmmm sebenarnya ini undangan pertunanganku”

Suasana menjadi hening. Akupun berusaha tersenyum padanya walau rasanya menarik bibir untuk merubah menjadi sebuah senyuman terasa sangat sulit bagiku.

“Selamat ya”Ujarku sambil mengulurkan tanganku padanya

“Iya, terima kasih ya. Oh ya, karna itu undangannya sangat spesial dan mungkin baru pertama kali di Indonesia juga”

“Maksudnya?”Tanyaku bingung

“Jadi gini,, itu undangannya berupa biji. Namanya magic beans, sepulang dari kantor kamu taruh deket jendela ya, jangan lupa di siram juga. Nanti dia akan tumbuh jadi dia akan muncul tulisan”

“Kalau dia nggak numbuh gimana?”

“Ya terpaksa aku kasih tau tanggal aku tunangan hahaha” Jawab Aldi sambil tertawa” ya sudah aku mau lanjut kerja ya” lanjutnya lagi

Rasanya badanku lemes, ya mungkin sudah saatnya aku harus move on dari yang namanya mantan. Tapi kenapa terasa sangat susah. Apalagi harus membuka hati yang baru. Tuhan, tolong aku.

Pulang dari kantor aku langsung menaruh bingkisan dari Aldi tadi di atas meja. sebuah pot putih dan bentuknya lucu dan terlihat manis karna ada pita berwarna silver menghiasinya.

” Di siram nggak ya, tapi kalo nggak di siram nanti aku tak tahu kapan mereka bertunangan. Kalo di siram berarti aku harus datang ke sana dong”Gerutu sendiri sambil menaruh kepala di atas meja.

Tiba-tiba mama datang sambil membawa secangkir teh hangat untukku.

“Kamu pasti capek ya, sampai tiduran di meja seperti itu”Ujar mama

“Eh mama, iya Aira capek banget mau mandi jadi malas”

“Eh nggak boleh begitu, kamu harus mandi biar seger”

“Iya, nanti dulu deh ma. Oh ya ma, Aira boleh tanya nggak sama mama”

“Tanya apa sayang?”

“Kenapa mama tidak menikah lagi?”

“Kenapa kamu tanya seperti itu?”

“Enggak, cuma berfikir saja, apa mama nggak kesepian?”

“Mama takut sayang, melihat papa pergi dengan wanita lain membuat mama trauma. Mama tak memungkiri rasa itu masih ada untuk papa kamu”

“Ma,..”

“Iya apa sayang”

“Salah nggak ma kalau Aira masih sayang Aldi”

Mama menatapku tajam

“Ihh mama kok lihatnya seperti itu?”

“Nggak ada yang salah kok ra, karena perasaan itu nggak pernah ada yang salah.  Yang salah adalah sikap kita terhadap perasaan itu sendiri”

“Mama nggak pernah bilang kalau mama masih sayang papa?”

Mama menggelengkan kepalanya

“Kenapa?”

“Mama lebih memilih untuk mengalah, sakit memang saat tahu orang yang kita cintai lebih memilih orang lain daripada mama sendiri. Tapi bagi mama cinta itu adalah memaafkan”

“Lalu apa Aira juga harus mengalah ma, dan mundur secara perlahan”

“Tak ada salahnya kamu mengungkapkan rasa itu pada Aldi, kemudian mundur pelan-pelan dan sambut hati yang baru”

“Kenapa harus bilang dulu ma”

“Kamu tak maukan hidup dengan memendam rasa terus?Paling tidak kamu sedikit lega dengan perasaan kamu lalu pergi menyambut hati yang baru”

Aku terdiam sejenak

“Sudah minum dulu tehnya, trus mandi biar seger. Mama tunggu di ruang makan ya”

Ya mungkin bener, aku harus bilang yang sebenarnya pada Aldi, lalu pergi menghilang dari hadapannya.

~ 3 hari kemudian ~

Hatiku bercampur aduk hari ini, sebuah sms dari Aldi masuk ke hpku

jangan lupa hari ini acara pentingku di rumah…

Seketika rasanya jantungku berhenti berdetak sesaat, hari ini… ya hari ini adalah hari penting Kia dan Aldi menuju ke jenjang yang lebih baru lagi. Dan hari inipun aku tak bersemangat untuk berangkat kerja, campur aduk rasanya.. haruskah aku ungkapkan…

Kulihat Kia dan Aldi juga tak masuk hari ini, mungkin mereka izin cuti untuk persiapan nanti malam.

“Kenapa kamu terlihat lemes gitu ra?Kamu sakit?” Tanya mbak Dina

“Enggak,, cuma ngerasa kurang tidur saja semalem”

“Kamu begadang?”

“Enggak juga, cuma tidurnya nggak nyenyak, jadi berasa masih ngantuk”

“Mau mbak buatin kopi biar nggak ngantuk?”

“Nggak usah, Aira kan punya sakit mag. Nanti bisa berabe kalo kambuh”

“Oh iya, nanti kamu datangkan ke acaranya Aldi sama Kia?”

“Oh, iya hampir lupa. Hari ini ya?”Ujarku pura-pura lupa padahal Aldi sudah mengingatkannya padaku

“Iya, nanti kita barengan ya, mbak jemput”

“Ehh,, nggak perlu, nanti Aira berangkat sama temen-temen SMA”

“oh ya sudah, tapi janji ya harus datang kamu”

“Iya janji”

Sore ini kantor pulang lebih awal karna semua pegawai di kantor di undang dalam acara pertunangan Aldi dan Kia.

Tapi yang terjadi adalah aku menangis sesampainya di rumah.

“Lo kamu kok nggak siap-siap ke acaranya Aldi? Mama sudah siap ini”

“Hmm mama pergi saja duluan, Aira nanti menyusul”

“Kamu nggak akan lari dari kenyataankan ra?”

“Kenapa mama bilang seperti itu?”

“Mama takut kamu mau mengakhiri semua ini setelah kenyataannya cinta kamu bertepuk sebelah tangan dengan Aldi”

“Mama kok bicara seperti itu?”

“Ayo kamu harus datang, kalau kamu benar2 sayang sama Aldi kamu harus ikhlas menerima kenyataan yang ada”

“Tapi sampai kapan ma?Aira tidak sanggup seperti mama”

“Ra, asal kamu tahu, mama memang sayang sama papa kamu tapi sayang mama kini tlah berubah menjadi seorang teman. Dan soal mama yang tidak menikah lagi karna mama tidak mau kasih sayang mama terbagi untuk yang lain, cukup untuk kalian”

“Tapikan ma?”

“Kamu masih muda, masa depan kamu jauh lebih panjang. kamu harus kuat, mama akan tunggu kamu di depan ya”

“Ma…”

Mana mungkin kuat, yang ada jika aku ke sana, aku bakal nangis dan merusak acara tersebut. Ku rebahkan kepalaku sambil memainkan pot bunga yang di beri Aldi waktu itu, saat ku angkat, didalamnya terdapat kertas yang di lipat kemudian di tempel dengan menggunakn selotip berbentuk hati.

“SURAT” Gumamku lirih

Dengan rasa penasaran ku buka surat itu dan membacanya

Hai Ra…

tulisan ini mungkin rasanya terasa terlambat dan mungkin tak berarti lagi nagi kamu.

Saat awal pertama kita bertemu di tempat kerja untuk pertama kali, tak ku pungkiri rasa itu masih ada. Rasa yang sama saat kita masih SMA, sebenarnya aku ingin jujur jika aku tak mampu untuk melupakanmu, tapi sepertinya diriku sudah tak ada lagi di dalam relung hati kamu. Lalu apa yang harus ku perbuat? ya hanya ini yang bisa aku lakukan, mengungkapkan semua perasaanku padamu, dan semoga magic beannya sudah tumbuh yang pasti. Ku harap magic bean itu benar-benar magic dan mau menyampaikan perasaanku padamu. Aira,  i love you. Walau nanti kita tlah berbeda jalan, ku harap kita masih bisa menjadi seorang sahabat.

11960069_10205376998289178_1605011020105827462_n

Ku lihat di pot kecil itu memang telah tumbuh dan mulai muncul daunnya walau belum daun sejatinya yang tumbuh. Dan dari situ muncul tulisan yang membuatku senang. Pernyataan cinta Aldi padaku.

Aldi masih sayang padaku? Dia…

Sontak aku langsung berdiri dari kursiku dan segera mengambil dompet dan handphoneku lalu pergi.

“Aira”Panggil mama, tapi aku terus berlari munuju jalan raya dan menghentikan taksi yang lewat di depanku

ya aku tahu sekarang apa yang harus aku lakukan, aku harap pertunangan antara Aldi dan Kia belum terlaksana.

Semua orang melihat ke arahku, tapi aku tak peduli yang ku cari hanyalah Aldi seorang.

“Aldi”Panggilku

“Aira, kamu kok…”Ujar Aldi yang tak melanjutkan perkataannya

“Aira, kenapa kamu pakai pakaian seperti itu? Ini acara pentingku”Ujar Kia yang ada di samping Aldi

Kulihat pakaian yang ku pakai, kaos pendek dan celana 3/4 belum lagi aku salah memakai pasangan sandalku

“Hmm… Maaf mengganggu, selamat ya”Aku pergi dengan nada lirih dan penuh kekecewaan

ya aku memang tak pantas untuk dia, bodohnya aku ingin mengungkapkan perasaan yang sebenarnya tapi malah mempermalukan diri sendiri.

“Ra, tunggu”Panggil Aldi

“Sorry, aku merusak acara penting kamu. Seharusnya aku nggak kesini dan membuat acaranya jadi berantakan. Sebaiknya aku pulang dan sekali lagi selamat ya”Ujarku lirih sambil memalingkan mukaku darinya

“Ra dengerin dulu aku mau bicara”

“Maaf” kataku sambil berlari menuju jalan keluar tapi aku malah terpeleset dan terjebur ke dalam kolam

“Aira” Panggil Aldi yang kemudian ikut terjun ke dalam kolam untuk menyelamatkanku

“Kamu gila ya, kamu kan nggak bisa berenang. Kalo terjadi sesuatu gimana?”bentak Aldi padaku

aku menutup wajahku dengan kedua tanganku, bukan hanya malu tapi aku hanya ingin menutup wajahku karna tak ingin tangisku terlihat.

 “Maafin aku, acaranya menjadi kacau seperti ini. Aku tak pantas berada di sini”

“Kamu ini bicara apa, kamukan tamu di acara ini”

“Al, sebelum aku pergi aku cuma mau bilang, perasaanku saat ini masih sama dengan perasan sewaktu kita masih SMA dulu. Dan semuanya memang terlambat, aku bahagia jika kamu bahagia. Sekali lagi maaf” Ujarku yang kemudian bangkit dan pergi

“Aira, kamu ini bilang apa, semua nggak ada yang terlambat. Ini pertunangan kakakku dengan Kia”Jelas Aldi dengan suara keras

“Ha? Apa?” Aku shock

Aldi tersenyum, tapi lebih kecenderung tertawa

“Iya, ini acara pertunangan kakak aku, kak Angga”Jelas Aldi sambil menahan tawanya

“Trus kamu?”

“Ya, masih jomblo, kecuali kalo kamu mau tunangan dengan aku sekalian nggak apa-apa”Jawabnya dengan sedikit malu-malu

“Ih nggak lucu”

“Eh kalian kok pada ngobrol, ayo ganti baju kalian dulu”Ujar mama Aldi sambil menyelimutiku dengan handuk

“Eh… Aira sebaiknya pulang saja deh tante”

“Eh kamu ini bicara apa, kamu keringin dulu baju kamu, tante nggak mau kamu sakit. Ayo masuk dulu”Pinta mama Aldi

Akupun masuk ke dalam kamar Aldi, tak kusangka foto kebersamaan kita saat masih SMA masih terpajang di kamarnya.

“Kenapa? Heran?”Tanya Aldi

“Kenapa begitu? Aku merasa di bohongi tahu”

“Kamu yang  membohongi perasaan kamu atau gimana?”

Aku terdiam

“Tapi kenapa cara kamu seperti ini?”Tanyaku sambil menundukkan kepala karna aku merasa tak pantas memandang wajah Aldi

Aldi menarik nafas panjang

“Saat aku kuliah, keluargaku sedang dalam masalah ekonomi yang parah, aku nggak mau karna kita pacaran kuliah aku jadi nggak fokus. Dan aku berjanji kalau aku sudah jadi orang aku akan datang menemui kamu apapun resikonya”

Akupun menangis sambil menutup wajahku

“Lalu kenapa kamu bohong? kenapa kamu mau bilang bertunangan dan menikah dengan calon kamu”

“Itu aku lakukan cuma untuk memastikan kalau perasaan kamu masih sama seperti dulu terhadapku”

“Lalu Kia?”

“Waktu itu kakak mengenalkan kia padaku saat tak sengaja aku masih berada di dalam kamar, dia melihat foto kita waktu masih SMA, dan dia bilang kalau kamu adalah teman kerjanya. Jadilah skenario ini untuk mengetahui apa kamu masih memiliki perasaan yang sama seperti dulu”

Aku masih menundukkan kepalaku

“Ra, perasaanku masih sama seperti dulu. Pasca putus denganmu, aku merasa jadi gila tapi karna aku tahu jalan satu-satunya agar aku tetap kuliah adalah mendapatkan beasiswa dan fokus untuk belajar. Karena itu aku berusaha dengan keras agar aku tetap fokus untuk segera lulus. Aku juga tahu saat kamu masuk rumah sakit dan harus di opname karena sakit tifus, rasanya aku mau datang menemui kamu. Alhasil ketika aku liburan dan aku ingin liat kamu, aku sembunyi-sembunyi melihat kamu dari kejauhan”

“Tapi kenapa kamu seperti itu, kalau kamu jujur aku pasti bisa mengerti semua ini”

Aldi menghapus air mataku

“Aku sayang kamu ra, nggak ada yang pernah menggantikan kamu di hatiku. Kalaupun aku bilang pernah dengan yang lain itu hanya karangan ceritaku untuk melihat ekspresi wajah kamu”

“Aku,, aku juga masih sayang sama kamu”

“Ya sudah, pertunangannya sekalian saja sama Angga”Ujar mama Aldi sambil tersenyum ke arah kita

“Tante, jangan-jangan kemarin tante juga akting juga ya?”Tanyaku penasaran

“ya seperti yang kamu lihat hehehe. Mama kamu juga tahu kok ” Ujar Mama Aldi sambil tersenyum

“Mama?”

“Iya, sebenarnya pasca putus aku langsung telpon tante kamu dan menceritakan semuanya ke tante. Aku juga sering mendapat kabar tentang kamu dari tante juga”Jelas Aldi

Mama?jadi mama terlibat? trus tadi mama aku tinggal di rumah.

“Sudah-sudah kalian ganti baju dulu, ini tante sudah siapin. Kamu juga Al, tapi ganti baju di kamar Angga ya jangan di sini”

“Ah mama”

“Hei,, jangan ada pikiran kotor”

Malam ini entah aku hanya bermimpi atau apa, tapi sungguh membuatku bahagia. Ya hari ini Aldi melamarku dan kami bertunangan secara dadakan. Tepatnya kami menumpang untuk bertunangan hahaha. Tapi meski serba dadakan, Aldi telah menyiapkan cincin untukku jauh-jauh hari. Dan yang pasti semua undanganpun juga terkejut, karna Aldi justru bertunangan denganku. 🙂

Kulihat dari jendela kamarku, mawar yang pernah Aldi beri padaku sejak SMA terlihat cantik dengan pancaran sinar bulan purnama. Dan yang membuatku terharu, magic beans yang dia berikan padaku. Tak pernah terbayang aku akan balikan dan langsung bertunangan dengan cinta pertamaku.

Ya, aku bahagia, tuhan terima kasih untuk hari yang membahagiakan ini. Aku sangat mencintainya 🙂