Kelor dan tetanggaku


foto0354

Hari ini aku bukannya membahas tentang khasiat atau manfaat daun kelor,,, tapi tentang sikelor dan tetangaku.

Kebetulan kejadiannya sudah lama terjadi. Malam itu tanggal 28 Agustus 2014 (hahaha aku koq hafal banget ya tanggalnya 😀 ) Pak RT dan beberapa tetanggaku mengetuk pintu rumah. Kala itu ebezku sedang ada rutinan jama’ah yasinan jadi pulang malam. Jadi yang keluar rumah membuka pintu adalah Ibu. Dengan nada kasar pak RT dan beberapa tetanggaku mengutarakan maksud kedatangannya ke rumah, yakni akan menyemen pinggiran aspal jalan digang samping rumah. Dan seperti yang telah diutarakan oleh Pak RT pagi sebelumnya, beliau meminta untuk menyumbang 2 sak semen dengan alasan rumah kami yang paling panjang dan banyak menghabiskan semen . Ibu yang sejak dari pagi telah di beri tahu tidak mau menyumbang karena menurut Ibu selain tidak adil juga karena tidak ada musyawarah sebelumnya. Ya maklumlah, kalo aku yang jadi tuan rumah pasti begitu,, karena sejak aku masih kecil keluargaku sering menanaminya dengan berbagai tanaman. Saat rumput mulai panjang ketika musim hujan, keluarga kamilah yang mencabutinya tanpa harus ada undangan kerja bakti dulu. Kami lakukan dengan senang, apalagi saat tanaman yang kita tanam di minta oleh tetangga. Rasanya hasil jerih payah kita bisa di hargai, itulah kesenangannya.

Nah singkat cerita, setelah berdebat cukup lama dengan ocehan khas Ibu-Ibu melawan Bapak-Bapak, akhirnya Ibu mengalah, dia cuma minta satu syarat agar pohon kelor yang ada tidak di tebang seperti tetangga-tetangga sebelumnya. Dan dengan terpaksa semaian bayam merah yang sudah numpuh, sereh, singkong, kembang turi, bumbu-bumbu dapur, serta bungaku yang entah apa namanya habis di babat oleh segerombolan pembabat tanaman (hahaha 😀 ). Dan Ibu yang masih marah hanya memberi uang untuk satu sak semen saja, kemudian pergi.

“Aku urun siji ae, soale aku yo nggak karep di semen i kabeh. Wong aku seneng nanduri kok ( Aku iuran satu sak semen saja,  aku tidak mengharapkan jalan ini di semen. Karena aku senang menanam” Ujar Ibu dengan lantangnya

Dan ketika ebez pulang, Ibu meminta agar tidak ikut membantu menyemen jalan. Lagipula ebez juga ogah mau membantu karena memang tidak ada musyawarah sebelumnya.

Kira-kira pukul 11 malam jalan sudah di semen, pada saat itu aku memang belum tidur. Berbagai umpatan, gosip yang tidak enak aku dengar tentang perlawanan Ibu tadi.

tiga bulan telah berlalu, dan minggu lalu ada tetanggaku, tepatnya hari kamis pagi seorang bapak-bapak (tak perlu sebut nama) habis ziarah ke kuburan di desa datang meminta daun kelor disamping rumah. Hanya sekedar informasi Daun kelor di tempatku biasanya digunakan sebagai sayuran yang di masak dengan kuah bening, tapi jika ada kerabat yang meninggal disarankan untuk tidak memasak daun kelor. Karena rasanya akan berbeda dari biasanya (percaya ngak percaya memang begitu sih).

“Jaok kelor (minta kelor)” Ujarnya seorang bapak2 yang ada pada malam itu

“Yo, ngapek-ngapek o (ya, ambil saja)”Jawab Ibu

Nah kebetulan, Bapak-bapak itu waktu meminta daun kelor itu sedang banyak Ibu-Ibu yang sedang menunggu tukang sayur dan tukang penjual tempe yang biasanya transit di samping rumah. Mungkin Ibu-Ibu memang nggak jauh dari gosip dan cerewet, tiba-tiba salah seorang tetanggaku berkata:

“Layo, byen po’o wit-wit kabeh di ketok i, saiki jaok kelor ( Dulu pohon-pohon di tebangi, sekarang minta daun kelor)” Tukas seorang tetanggaku

“Iyo, byen po’o di rasani nyocot sembarang, saiki ngapek kelor(Iya, kemarin-kemarin sampe di gosipin cerewet bawel, sekarang minta daun kelor) “Jawab Ibu

“Duh, lek aku yo isin kate jaok. Ancen wong lanang ora ngerti kebutuhan sak bendinone entek piro(kalau aku ya malu, minta daun kelor. Memang lelaki tidak pernah tahu kebutuhan sehari-hari habis berapa)” Tukas tetanggaku yang lain

Asli aku yang sedang menyapu halaman jadi pengen ketawa kemarin. Sialnya lagi waktu dia mau pulang sepedanya tiba-tiba macet. Hahahaha
Sebenarnya Ibu-Ibu di sana juga tidak mau tanamannya di tebangi. Karena yang di tebangi itu sebagian besar adalah bumbu dapur dan kawan-kawannya. Mereka para Bapak-Bapak seperti tidak paham wanita saja. Harga beda 100 perak saja pasti rame. Dan mereka para Bapak-bapak yang telah menebangi pepohonan atau tanaman yang bermanfaat, hanya tahu bahwa itu membuat kotor halaman rumah mereka.

Daun kelor di tempatku termasuk sayuran laris manis yang mudah didapat, akan tetapi maraknya pembangunan, serta penyemenan jalan membuat beberapa tanaman harus di tebang. Setelah membaca manfaat dari daun kelor dari blog yang saya ikuti ini http://ceritanurmanadi.wordpress.com/2014/11/16/ayo-makan-daun-kelor/ saya jadi semangat untuk melestarikannya, walau hanya skala kecil di rumah.

Lain kisah lain cerita pula. Ini masih tentang tetangga resek. Dulu ketika aku lulus SMA aku tidak langsung melanjutkan pendidikan untuk kuliah. Aku berhenti setahun dulu. Nah untuk mengisi kesibukan, aku bercocok tanam karena memang itu hobbyku. Dulu jalan disamping rumah sebelum di semen seperti sekarang ini, aku menanami cabe dan bayam. Kebetulan pertumbuhan cabe kalah jauh dibandingkan dengan bayam, sehingga cabe yang aku tanam tidak terlihat. Kala itu sedang musim kemarau, tanaman mudah sekali layu jika tidak disirami. Jadi aku menyiraminya pagi dan sore hari.

Kala itu sekitar pukul 6 pagi aku sedang membawa kaleng berisi air untuk menyirami bayam sekaligus cabe. Kebetulan tetangga resek yang ada didepan rumah lewat disampingku sambil berkata “kurang penggawean ae, bayem kok disiram (kurang kerjaan saja, bayam liar saja di siram)” ujarnya

Dalam hati pengen ngomel sendiri, belum tahu apa yang aku siram “Cabe harganya mahal tau” . Sudah tahu aku sedang menyirami tanaman, masih aja bilang akukurang kerjaan. Nah situ kerjaannya cuma mengomentari orang yang kurang kerjaan HAHAHA :D. Hari demi hari bayam dan cabe yang bersembunyi itu semakin besar dan tinggi. Bahkan cabe sudah mulai berbuah. Dan banyak tetangga yang minta bayam untuk di masak. Ya “minta” aku sama sekali tak keberatan jika mereka minta dengan izin pada keluargaku, akan tetapi jika mereka mengambil tanpa izin, rasanya sakitnya tuh di sini hahaha 😀
Ada tetangga baik dan ada pula tetangga yang nggak baik. Ketika Ibu mau memasak sayur bayam pasti sudah dipetik oleh orang, dan akhirnya tidak jadi. Selama beberapa kali kejadian itu terjadi berulang terus. Dan karena aku penasaran dengan siapa yang mengambil sayur tanpa izin itu, aku berniat lihat pagi-pagi sebelum subuh sudah ada didekat pager (niat banget ya aku dulu :D) Dan taraaa… siapa dia Ya Allah Tetangga resek itu yang mengambilnya. Yang bilang padaku jika aku kurang kerjaan menyiram bayam? Rasanya aku pengen lempar dia pake sandal ke mukanya. Tapi sabar-sabar aku nggak jadi lempar sandal ke mukanya.

Dan ketika si Cabe mulai berbuah, harga cabe mulai beranjak naik. Pas banget ya, 😀
Dan si bayam itupun tak lagi berdaun lebat seperti dulu sehingga si cabe terlihat dengan jelas bakal buahnya. Kali ini ketika aku mengambil daun jeruk purut disamping rumah, tak sengaja melihat tetangga resek itu sedang mencari cabe yang mulai memerah. Astaghfirulloh, aku langsung saja pura-pura batuk tapi aku tak menampakkan batang hidungnya. Mungkin dia dengar suaraku, jadi dia langsung bruru-buru ngacir pergi.

Hubungan antar manusia memang merepotkan, tapi kita tak bisa hidup sendiri. Tetangga memang kadang resek, tapi kita terkadang juga membutuhkan bantuan tetangga. Jadi menurutku tak perlulah bersikap resek seperti itu. Orang-orang di rumah seneng kok jika ada tetangga minta sesuatu yang ada dirumah, asalkan dia ijin. Jadi merasa di hargai atas jerih payah menanam sayuran tersebut. Malu karena pernah menghujat, namun pada akhirnya mengambil tanpa izin. Menurut Anda apa yang harus aku lakukan jika menemui tetangga resek seperti mereka??

Iklan

3 thoughts on “Kelor dan tetanggaku

  1. Itulah knapa di Indonesia sering terkena banjir krn semua mau disemen, akibatnya air jadi tidak bisa terserap ke dalam tanah 😦 . Saya lihat foto diatas, kayanya ga perlu di semen pinggir jalannya, ga mungkin juga kendaraan sampai mepet ke tepi jalan kan. Harusnya pak rt stempat memikirkan sedikit lahanlah buat penghijauan bukan asal mau nyemen aja hehe 😀 .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s