Air Mata Terakhir Ibu


Image

Malam itu jam telah menunjukkan pukul 10 malam, aku mendengar suara mobil disamping rumahku. Dengan penuh rasa penasaran aku menuju ke arah ruang tamu untuk melihatnya. Kulihat ada beberapa orang tengah sibuk mengangkat barang-barang untuk di bawah keatas mobil. Ya, Anda bisa menebaknya, tetanggaku sedang membereskan barang-barangnya untuk segera pindah dari rumah itu.

Sebenarnya rumah itu dihuni oleh empat anggota keluarga inti, yakni Ayah, Ibu dan dua anak laki-laki. Kedua anak laki-laki tersebut yang sama-sama telah berkeluarga dan di karuniai seorang anak. Anak pertamanya tinggal bersama kedua orang tuanya dan masih menunggu akan kelahiran anak keduanya. Sedangkan anak bungsunya lebih memilih tinggal di rumah istrinya karena hubungan antara kakak dan kakak iparnya kurang harmonis.

Ya, hubungan didalam keluarga itu kurang harmonis, awalnya hanya sekedar ketidak harmonisan antara adik kakak. Tapi semenjak kakaknya menikah ketidak harmonisan itu menjalar pada hubungan menantu dengan ibu mertuanya. Dan terus berlanjut ketika kedua orang tuanya berniat memberikan rumah kepada anak bungsunya. Anak sulung mereka meminta rumah yang telah di tempatinya sejak dulu, daripada rumah yang telah di belikan oleh orang tuanya. Sejak awal menikah, sang menantu dari anak pertama bisa dibilang jarang mau membantu Ibu mertuanya untuk memasak di dapur atau membantu mengurus keperluan rumah. Baju suaminyapun di cuci istrinya hanya pada awal pernikahan saja, namun akhirnya sang suaminyalah yang mencuci sendiri bajumya. Entah karena sang suami sangat mencintai istrinya sehingga sikap sang istri di matanya dianggap baik olehnya, termasuk masih tidur di saat sang Ibu mertua tengah sibuk menyiapkan sarapan untuk anaknya yang akan bekerja.
Kedua orang tua mereka sama bekerja sebagai petani. Jadi rutinitas kedua orang tua mereka berada di sawah yang telah diwariskan turun temurun.
Sang Ibu sebenarnya ingin menasehati sikap sang menantunya tersebut, tapi dia lebih memilih diam dan menyimpan dalam-dalam amarahnya itu. Dia tidak ingin hubungan dengan anaknya menjadi berantakan. Namun semua itu tetaplah sia-sia, anaknya lebih memilih cintanya di bagi untuk sang istrinya daripada dibagi untuk Ibunya yang telah membesarkannya itu.

Awal dari semakin buruknya hubungan antara mertua dan menantunya tersebut dari kejadian pada saat sang menantu keluar rumah tanpa izin sang mertua. Karena terlalu capek usai mengurus sawah hingga tengah hari, sang mertua mengunci pintu rumah tanpa menyadari jika sang menantu masih ada di luar. Saat jam telah menunjukkan pukul 11 malam, terdengar suara anaknya yang tengah pulang dari kerja. Dan sang anak langsung memarahi Ibunya tersebut karena telah mengunci pintu rumah, sedangkan istrinya yang tengah hamil tersebut masih ada di luar. Dan sang Ibu masih tetap menahan amarahnya dan langsung meminta maaf, walaupun dia tahu yang seharusnya meminta maaf adalah menantunya karena keluar tanpa memberitahunya. Tetapi dia mencoba untuk mengalah dengan anaknya. Dan semenjak kejadian itu hubungan antara mertua dan menantunya semakin memburuk. Sang menantu tidak bertegur sapa, walaupun masih tinggal satu atap dengannya. Bahkan Cucunya sendiri yang biasa tidur dengan neneknya itu di larang untuk menemui sang nenek. Dan puncak dari kejadian tersebut adalah pindah dari rumah tanpa sepengetahuan sang Ibu.

Pagi itu aku berpapasan dengan Ibu tetanggaku itu. Dia berusaha tersenyum, walaupun guratan wajahnya menunjukkan bahwa dia sedang bersedih.

“Mak, kok semalam pindahan nggak pamitan ke aku?”Tanyaku pada wanita paruh baya itu dengan panggilan EMAK.

“Lho, kamu tahu dia pindahan?”Tanya balik padaku

Aku mengangguk pelan

“Jam berapa?”Tanyanya lagi

“Jam 10, memangnya Emak nggak tahu?”Tanyaku lagi

“Bilang mau pindahan saja enggak, apalagi pamitan. Aku nggak tahu kalau dia memindahkan barang-barangnya semalam, aku kecapean mengurus sawah sama Bapaknya. Jadi jam 8 aku sudah tidur”Jawabnya lirih

“Sabar mak, paling enggak mak nggak jadi pembantu mereka lagi”Jawabku dengan sedikit bercanda
Wanita paruh baya itu terdiam

“Susah payah aku hamil anak pertamaku itu, sampai jatuh dari kamar mandi trus pinggangku sakit selama beberapa hari. Aku tahan. Aku tahan, sambil berdo’a semoga anakku tidak terjadi apa-apa. Aku hanya ingin dia hidup dan bisa melihat wajah mungilnya. Tapi kalau begini, rasanya aku menyesal tlah melahirkannya”Ujarnya dengan kedua tangan yang dia kepalkan

“Astaghfirlloh mak, Istighfar. Jangan ngomong seperti itu, kasihan menantu Emak. Dia sedang hamil tua. Emak tenang dulu, ayo duduk”Nasehatku sambil menyuruhnya duduk agar lebih tenang

“Biar saja dia merasakan hidup susah, dia pikir dengan pergi dari rumah tanpa pamitan hidupnya akan mudah? Biar dia tahu berapa uang belanja sebulan. Mereka cuma tahu makan tidur tanpa tahu berapa uang yang di keluarkan. Bilangnya kerja tapi mana, nggak ada hasilnya. Di kasih uang saja enggak. Sudah dibelikan rumah tapi malah lebih memilih ngontrak. Istri gila”Ujarnya dengan uneg-uneg yang slama ini dia simpan dalam-dalam

“Istighfar mak, sudah. Istighfar ya…”

“Astaghfirulloh hal adzim…. Astaghfirlloh… Ampuni dosa anakku ya Allah…Jangan jadikan dia anak yang durhaka padaku ya Allah”Air matanya pun Mulai berjatuhan dengan desah nafas yang mulai tak beraturan.
“Mak, Emak kenapa??”
Wanita tua itu tetap menangis sambil mengepalkan kedua tangannya, kepalan tangan kanan ia pukulkan kearah dadanya, dan yang satu mengepal mengarah bumi. Hingga akhirnya wanita tua itu terjatuh pingsan tak sadarkan diri.
Wargapun datang membantu wanita tua itu ke bidan didesa, namun ternyata wanita itu telah menghembuskan nafas terakhirnya.
Dan sang anakpun hanya bisa merasakan penyesalan sambil menangis didekat jasad ibunya. Air mata wanita itupun masih belumlah mengering, seolah ingin memberitahukan kepada anaknya, bahwa derai air matanya melambangkan cinta kasihnya yang tak kan pernah padam dan abadi. Sekalipun cinta anaknya telah terbagi dengan wanita yang lain….
I love U Mak….
Semoga aq nanti g bersikap seperti itu….

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s